Pensil
Hitam Ditya
oleh Udiarti
Sejak
sore tadi hujan turun terus-menerus tanpa henti. Airnya meluncur dengan deras
dari langit. Mega-mega diatas sana terlihat sangat hitam karena mendung.
Didalam kamar seorang anak laki-laki masih memakai seragam merah putihnya. Ia
berada didalam gumpalan selimut tebal berwarna hijau tua. Ia menggigil seolah
tubuhnya masuk kedalam lemari es. Ditya sudah pulang dari sekolah sejak dua jam
yang lalu. Tapi seragamnya belum juga diganti karena ia masih malas untuk
berganti baju.
Ditya
membuka selimut yang ia gunakan untuk menutupi badannya yang kedinginan. Ia
mengambil sesuatu kedalam tas gendong warna ungu tua kesayangannya yang sudah
mulai kusam. Ia mengeluarkan buku gambar ukuran A3. Membolak-balik lembar demi
lembar halaman buku gambar. Satu gambar berhasil Ditya temukan. Ada buah nanas
dengan warna hitam. Dibawah gambar nanas ada huruf D tertulis disana. Artinya
Ditya mendapat nilai jelek. Ia tidak mendapatkan nilai A atau pun B. Ibu Ditya
masuk kedalam kamar Ditya.
“Kenapa
kamu belum ganti baju Dit? Ayo ganti dulu, setelah itu kita makan ya.” Kata Ibu
dengan nada lembut.
“Iya
Bu. Ditya hari ini tidak suka dengan pelajaran menggambar.” Kata Ditya dengan
lemas.
“Loh
kenapa Dit? Bukannya kamu sangat suka menggambar? Bukannya cita-cita kamu
adalah membuat pameran lukisan?” Ibu heran dengan Ditya, anaknya yang masih
kelas empat SD tiba-tiba putus asa dengan cita-citanya.
“Minggu
depan akan ada lomba menggambar antar Kabupaten Bu. Ditya ingin ikut, tapi hari
ini gambaran Ditya mendapat nilai D gara-gara Ditya mewarnai nanas dengan warna
hitam.”
“Wah,
kamu jangan putus asa nak. Tapi kenapa kamu mewarnai nanas dengan warna hitam?
Bukankah nanas itu warnanya kuning dan oranye?”
Dengan
nada kecewa Ditya bercerita. Ditya mewarnai nanas dengan warna hitam karena
Ditya merasa suka dengan nanas berwarna hitam. Ditya merasa bahwa semua gambar
tidak harus diberi warna sama dengan aslinya. Ditya juga mengatakan bahwa
gurunya tidak memiliki rasa seni yang tinggi. Lantas Ibu menasehati Ditya. Ibu berkata
bahwa untuk mencapai cita-cita kita tidak boleh bersifat egois dan sombong.
Terutama ketika kita menghasilkan suatu karya seni. Kita harus mau mendengarkan
kritik dan masukan dari orang lain. Dalam meraih cita-cita kita harus punya
karakter tidak boleh putus asa dan mau menerima masukan. Ditya pun mengerti
nasehat dari Ibunya. Ditya sadar bahwa ia harus tetap semangat dan mau menerima
kritik dari siapa pun. Setelah itu Ditya mandi dan makan dengan keluargannya.
***
Pagi
ini Ditya akan mengikuti seleksi lomba menggambar. Ia sudah membawa segala
jenis perawatan untuk menggambar, mulai dari buku gambar, pensil, pensil warna
dan penghapus. Dimeja yang sudah disiapkan oleh sekolah, Ditya mulai menggambar
suasana keramaian pasar. Ia menggambar dengan sungguh-sunguh. Ditengah-tengah
kegiatan menggambar, salah satu teman Ditya meminjam pensil warna hitam
miliknya. Ditya pun meminjamkan pensil warna hitam miliknya.
Tapi pensil
hitam milik Ditya malah patah karena tidak sengaja jatuh, diinjak dan tidak bisa
dipakai lagi. Teman Ditya meminta maaf atas kesalahannya. Ditya sangat kecewa
dengan ketledoran Dito, temannya yang meminjam pensil warna hitam miliknya itu.
Dito merasa tidak enak kepada Ditya. Sayangnya Dito tidak bisa berbuat apa-apa
kecuali hanya meminta maaf saja dan berniat akan menggantinya nanti seusai
pulang sekolah.
Ditya
mulai panik karena ia hanya punya satu pensil warna hitam. Teman-temannya yang
mengikuti seleksi tidak mau meminjamkan pensil warna hitam padanya. Padahal
Ditya sangat membutuhkan pensil warna hitam. Ditya ingat nasehat Ibunya agar ia
tidak boleh putus asa dan harus tetap semangat. Ditya pun tidak kehabisan ide,
Ditya menggunakan pensil tulis untuk mendapatkan warna hitam pekat. Ia
menyapukan pensil berulang-ulang kali ke gambarannya yang membutuhkan warna
hitam. Waktu seleksi lomba pun sudah habis. Ditya dan teman-temannya yang lain
mengumpulkan gambarannya. Dengan sedikit kecewa Ditya mengumpulkan gambarannya
kepada guru yang menyeleksi.
Sepulang
sekolah Dito menghampiri Ditya. Ditya terlihat sedih karena ia merasa
gambarannya kurang maksimal. “Maafkan aku ya Dit. Aku akan mengganti pensil
warnamu nanti.” Katanya Dito penuh penyesalan.
“Tidak
apa-apa To, gambaranku juga sudah dikumpulkan.” Kata Ditya, ia mencoba untuk
tetap berlapang dada.
“Tapi
aku merasa tidak enak, maaf ya sudah membuat kamu merasa kecewa.” Kata Dito.
“Tidak
apa-apa To, yang sudah terjadi tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang kita
menunggu saja pengumuman lolos seleksi besuk pagi ya.” Ditya tersenyum kepada
Dito. Senyuman Ditya membuat Dito sedikit lebih tenang. Mereka pun pulang
kerumah masing-masing.
***
Tibalah waktu
untuk pengumuman siapa yang akan lolos mewakili SD Negeri dua Gemantar untuk
lomba menggambar tingkat Kabupaten. Ditya sudah pasrah dengan gambarannya, ia
ikhlas jika memang gambarannya harus kalah. Ia tidak akan berhenti menggambar
walau pun tidak mewakili lomba. Pak Guru Kolis membacakan nama pemenang seleksi
lomba menggambar didalam ruang kelas empat.
“Anak-anak, yang
akan mewakili sekolah kita dalam lomba menggambar adalah Ditya Aksara.” Kata
Pak Guru Kolis. Seisi kelas pun bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada
Ditya.
Dan ternyata yang
mewakili lomba adalah Ditya Aksara, Ditya melonjak kegirangan. Keputus asaan
yang mampu ia lawan ternyata berbuah hasil. Ia pun tidak ingin punya dendam
kepada siapapun. Ditya merasa tidak boleh marah kepada Dito yang sudah
mematahkan pensil warna hitamnya. Ditya juga tidak mau marah kepada
teman-teman, yang sempat tidak memberikan pinjaman pensil warna hitam kepadanya
ketika seleksi lomba. Ia akan belajar menggambar lebih giat untuk persiapan
lomba tingkat Kabupaten nanti dan untuk meraih cita-citanya membuat pameran
lukisan.

0 komentar:
Posting Komentar