Pages

Senin, 20 Juni 2016

CERNAK "Pensil Hitam Ditya" (sempat digunakan untuk lomba tingkat SD, dan konon juara 3)

Pensil Hitam Ditya


 oleh Udiarti

            Sejak sore tadi hujan turun terus-menerus tanpa henti. Airnya meluncur dengan deras dari langit. Mega-mega diatas sana terlihat sangat hitam karena mendung. Didalam kamar seorang anak laki-laki masih memakai seragam merah putihnya. Ia berada didalam gumpalan selimut tebal berwarna hijau tua. Ia menggigil seolah tubuhnya masuk kedalam lemari es. Ditya sudah pulang dari sekolah sejak dua jam yang lalu. Tapi seragamnya belum juga diganti karena ia masih malas untuk berganti baju.
            Ditya membuka selimut yang ia gunakan untuk menutupi badannya yang kedinginan. Ia mengambil sesuatu kedalam tas gendong warna ungu tua kesayangannya yang sudah mulai kusam. Ia mengeluarkan buku gambar ukuran A3. Membolak-balik lembar demi lembar halaman buku gambar. Satu gambar berhasil Ditya temukan. Ada buah nanas dengan warna hitam. Dibawah gambar nanas ada huruf D tertulis disana. Artinya Ditya mendapat nilai jelek. Ia tidak mendapatkan nilai A atau pun B. Ibu Ditya masuk kedalam kamar Ditya.
            “Kenapa kamu belum ganti baju Dit? Ayo ganti dulu, setelah itu kita makan ya.” Kata Ibu dengan nada lembut.
            “Iya Bu. Ditya hari ini tidak suka dengan pelajaran menggambar.” Kata Ditya dengan lemas.
            “Loh kenapa Dit? Bukannya kamu sangat suka menggambar? Bukannya cita-cita kamu adalah membuat pameran lukisan?” Ibu heran dengan Ditya, anaknya yang masih kelas empat SD tiba-tiba putus asa dengan cita-citanya.
            “Minggu depan akan ada lomba menggambar antar Kabupaten Bu. Ditya ingin ikut, tapi hari ini gambaran Ditya mendapat nilai D gara-gara Ditya mewarnai nanas dengan warna hitam.”
            “Wah, kamu jangan putus asa nak. Tapi kenapa kamu mewarnai nanas dengan warna hitam? Bukankah nanas itu warnanya kuning dan oranye?”
            Dengan nada kecewa Ditya bercerita. Ditya mewarnai nanas dengan warna hitam karena Ditya merasa suka dengan nanas berwarna hitam. Ditya merasa bahwa semua gambar tidak harus diberi warna sama dengan aslinya. Ditya juga mengatakan bahwa gurunya tidak memiliki rasa seni yang tinggi. Lantas Ibu menasehati Ditya. Ibu berkata bahwa untuk mencapai cita-cita kita tidak boleh bersifat egois dan sombong. Terutama ketika kita menghasilkan suatu karya seni. Kita harus mau mendengarkan kritik dan masukan dari orang lain. Dalam meraih cita-cita kita harus punya karakter tidak boleh putus asa dan mau menerima masukan. Ditya pun mengerti nasehat dari Ibunya. Ditya sadar bahwa ia harus tetap semangat dan mau menerima kritik dari siapa pun. Setelah itu Ditya mandi dan makan dengan keluargannya.
***
            Pagi ini Ditya akan mengikuti seleksi lomba menggambar. Ia sudah membawa segala jenis perawatan untuk menggambar, mulai dari buku gambar, pensil, pensil warna dan penghapus. Dimeja yang sudah disiapkan oleh sekolah, Ditya mulai menggambar suasana keramaian pasar. Ia menggambar dengan sungguh-sunguh. Ditengah-tengah kegiatan menggambar, salah satu teman Ditya meminjam pensil warna hitam miliknya. Ditya pun meminjamkan pensil warna hitam miliknya.
Tapi pensil hitam milik Ditya malah patah karena tidak sengaja jatuh, diinjak dan tidak bisa dipakai lagi. Teman Ditya meminta maaf atas kesalahannya. Ditya sangat kecewa dengan ketledoran Dito, temannya yang meminjam pensil warna hitam miliknya itu. Dito merasa tidak enak kepada Ditya. Sayangnya Dito tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya meminta maaf saja dan berniat akan menggantinya nanti seusai pulang sekolah.
            Ditya mulai panik karena ia hanya punya satu pensil warna hitam. Teman-temannya yang mengikuti seleksi tidak mau meminjamkan pensil warna hitam padanya. Padahal Ditya sangat membutuhkan pensil warna hitam. Ditya ingat nasehat Ibunya agar ia tidak boleh putus asa dan harus tetap semangat. Ditya pun tidak kehabisan ide, Ditya menggunakan pensil tulis untuk mendapatkan warna hitam pekat. Ia menyapukan pensil berulang-ulang kali ke gambarannya yang membutuhkan warna hitam. Waktu seleksi lomba pun sudah habis. Ditya dan teman-temannya yang lain mengumpulkan gambarannya. Dengan sedikit kecewa Ditya mengumpulkan gambarannya kepada guru yang menyeleksi.
            Sepulang sekolah Dito menghampiri Ditya. Ditya terlihat sedih karena ia merasa gambarannya kurang maksimal. “Maafkan aku ya Dit. Aku akan mengganti pensil warnamu nanti.” Katanya Dito penuh penyesalan.
            “Tidak apa-apa To, gambaranku juga sudah dikumpulkan.” Kata Ditya, ia mencoba untuk tetap berlapang dada.
            “Tapi aku merasa tidak enak, maaf ya sudah membuat kamu merasa kecewa.” Kata Dito.
            “Tidak apa-apa To, yang sudah terjadi tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang kita menunggu saja pengumuman lolos seleksi besuk pagi ya.” Ditya tersenyum kepada Dito. Senyuman Ditya membuat Dito sedikit lebih tenang. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
***
Tibalah waktu untuk pengumuman siapa yang akan lolos mewakili SD Negeri dua Gemantar untuk lomba menggambar tingkat Kabupaten. Ditya sudah pasrah dengan gambarannya, ia ikhlas jika memang gambarannya harus kalah. Ia tidak akan berhenti menggambar walau pun tidak mewakili lomba. Pak Guru Kolis membacakan nama pemenang seleksi lomba menggambar didalam ruang kelas empat.
“Anak-anak, yang akan mewakili sekolah kita dalam lomba menggambar adalah Ditya Aksara.” Kata Pak Guru Kolis. Seisi kelas pun bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Ditya.
Dan ternyata yang mewakili lomba adalah Ditya Aksara, Ditya melonjak kegirangan. Keputus asaan yang mampu ia lawan ternyata berbuah hasil. Ia pun tidak ingin punya dendam kepada siapapun. Ditya merasa tidak boleh marah kepada Dito yang sudah mematahkan pensil warna hitamnya. Ditya juga tidak mau marah kepada teman-teman, yang sempat tidak memberikan pinjaman pensil warna hitam kepadanya ketika seleksi lomba. Ia akan belajar menggambar lebih giat untuk persiapan lomba tingkat Kabupaten nanti dan untuk meraih cita-citanya membuat pameran lukisan.
           


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates