Pages

Selasa, 03 Desember 2013

Anak-anak Ini Seharusnya Tidak Dikorbankan!


Karanganyar, 3 Desember 2013.


     Kepada yang masih mau membaca.

     Malam ini, saya pikir akan menjadi malam yang biasa saja, ternyata malah sangat luar biasa. Setelah usai berlatih tari topeng Sekartaji di kampus, pukul 7 malam saya siap meluncur ke Taman Cerdas Gandekan. Dengan Buble Dee yang penuh dengan semangat. Iya, saya benar-benar sampai disana, setelah satu minggu tidak berkunjung dan melihat anak-anak kecil ini tertawa dimalam hari.
     Seperti biasanya, malam akan cepat ketika berada disekeliling mereka. Sebenarnya saya masih sangat lelah setelah seharian berada dihabitat kampus yang kadang terasa membosankan karena tidak ada stimulus yang merangsang kekritisan anak-anak dikampus, jujur, kampus saya ini “krik-krik”. Tapi gerbang Taman Cerdas seakan menjadi vitamin tersendiri yang mampu memicu semangat untuk membaur dengan tawa-tawa kecil lainnya. Saya rindu kelas ini, anak kelas 3 dan 4, besuk pagi sebagian dari mereka ada test mata pelajaran IPS, kamipun belajar pelajaran IPS bersama-sama. Salah satu anak kelas 4 ini luar biasa, laki-laki kecil yang aktif mengganggu temannya tapi otaknya bekerja dengan baik ketika menerima pelajaran. Ia hafal sumpah pemuda, ia tahu beberapa tarian asal Jawa Tengah, ia juga tahu beberapa candi di Indonesia. Kami juga bernyanyi bersama, menyanyikan lagu nasional “Padamu Negeri” dan lagu daerah “Lir-ilir”. Mereka paling suka game, karena itu saya yang pada saat itu baru saya saja yang datang untuk menemani anak kelas 3 dan 4 belajar, memilih menyatukan anak kelas 3 dan 4 untuk bermain kuis dalam mata pelajaran IPS. Entah kenapa anak-anak ini bisa menjawab pertanyaan dari saya, mereka hebat!!!
     Ini jamnya pulang, pukul 8 malam. Mereka, anak-anak manis ini harus segera pulang kerumahnya masing-masing. Baiklah, untuk anak kelas 3 dan 4 sudah saya pulangkan. Mereka pamit pulang dengan sangat manis, saling tos dengan para kakak-kakak pengajarnya. Diluar, dipendhopo kecil Taman Cerdas Gandekan, anak kelas 5, 6 dan SMP masih sibuk dengan belajarnya. Mungkin karena porsi pelajaran mereka lebih sulit dan banyak, karena itu waktu 1 jam tidak cukup untuk membahas pelajaran mereka.
     Sayapun memilih bercanda dengan adik-adik yang belum pulang. Mendadak telinga saya terasa panas. Ada kalimat-kalimat yang membuat kuping nyeri untuk mendengarkannya. Seorang gadis cilik, kelas 5 SD sedang mencurahkan segala isi perasaan dihatinya. Saya pikir itu sesi curhat, ternyata ada yang tidak beres dengan kalimat-kalimat itu. Malam ini, hati saya terasa teriris, sakit, nyaris tidak bisa merasakan apa-apa ketika gadis itu berteriak, menangis dan berkata “Bapak dan Ibuku mau cerai! Mereka suka berkelahi! Aku nggak ada yang memperhatikan! Aku nakal kaya gini karena aku butuh kasih sayang! Bapakku selingkuh! Ibuku juga! Aku dimarahin terus! Ibu bilang dia nyesel udah nglairin aku kedunia! Padahal aku pulang sekolah udah nyetrika, nyunyi baju, nyunyi piring tapi aku selalu dimarahin! Temen-temen aku suka ngejek aku! Aku tu butuh kasih sayang!” Saya benar-benar merasa Negara ini tidak benar-benar baik-baik saja, Negara ini sakit karena penerus bangsanya yang masih kelas 5 SD merasakan hidup yang sesakit itu.
     Lalu harus apakah kami sebagai remaja-remaja yang menyebut dirinya Volunteer? Menyerahkah kita dengan pemikiran “Ini urusan keluarga mereka”? lingkungan ini makin lama makin buruk, tidak seperti masa kecil kami yang penuh permen cokelat m&m. Iya! Kita sudah berada dilingkungan ini, menyatu dan memasrahkan diri. Anak-anak ini butuh kita sebagai “papa dan mama” dan mengajarkan hal-hal baik bagi mereka. Mendorong mereka untuk semangat, tidak melulu menyalahkan lingkungan dan orang tua yang mungkin gagal mendidik karakter mereka.
     Semuanya! Mahasiswa-mahasiswa, remaja-remaja Indonesia yang katanya menginginkan negara ini sentosa dan sejahtera. Masih layakkah kalian untuk mencibir negaramu dan berdemo ini itu sambil merusak jalanan dan kantor-kantor? Mari! Semuanya! Yang masa kecilnya masih lebih beruntung dari mereka, yang kini sudah bisa menempuh hidup sampai kuliah dan bekerja. Bantu mereka, malaikat-malaikat kecil ini sangat butuh kasih sayang untuk membimbing mereka keperadaban yang lebih baik.
     Ketika ada orang yang berkata “Ini bukan urusan anda, disekolah sudah ada guru BP yang bisa memanggil orang tua mereka.” Saya berani taruhan! Guru BP disekolah tidak akan berbuat banyak dengan urusan anak-anak ini, orang tua? Ketika orang tua mereka sudah terlanjur dikalahkan oleh peradaban yang bobrok, bisakah mereka mendidik anak-anaknya untuk jadi lebih baik? Itu tugas kita teman, para remaja yang masih berpikiran sehat. Jika orang tua dan guru disekolah tidak bisa berbuat banyak untuk mereka, maka kita wajib membantu anak-anak mungil ini. Hati mereka seharusnya bebas, dunia mereka seharusnya belajar, bermain dan mengenal cita-citanya. Jangan biarkan anak-anak ini tumbuh menjadi dewasa galau sebelum waktunya. Bisa jadi jika kita membiarkan mereka hidup dalam pemikiran penuh kemelut, masa depan kita juga bisa terancam bobrok. Yang ditanam sekarang adalah bibit yang akan berbuah dimasa depan. Semangat! Mousebat!


Dari saya,

Udi.

 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates