Manusia
terlahir, tumbuh, mengalami masa kanak-kanak, berpetualang, jadi dewasa, dan
menghilang.
Malam itu, lima
Desember 2014, kalimat diatas adalah apa yang saya temukan dalam suatu
pementasan yang luar biasa manis. Saya sengaja datang ke Yogyakarta, berniat
membaca beberapa referensi ke perpustakaan UNY. Petualangan saya hari itu
memang terlampau sederhana. Bahkan tak lebih mewah dari rangkaian kembang
melati pada rambut seorang penari Bedhaya.
Saya naik
kereta pukul 09.10 pagi dari station Balapan Solo. Station yang pernah
memberikan inspirasi lirik lagu romantis namun menyakitkan milik seniman
campursari asli Solo, Didi Kempot. Seorang teman yang baik, kuliah di Yogya
sudah mau membantu saya untuk menjemput di station Lempuyangan dan menampung
saya selama satu hari di Yogya. Langit tak terlalu cerah, udara masih saja
terasa lembut dan dingin. Sama seperti di Karanganyar, kadang dingin lalu
mendung dan gerimis. Menyapu lelah perjalanan yang hanya duduk menatap jendela
luar.
Baiklah, saya
akan langsung mulai dari malam hari saja. Karena akan terlalu panjang jika saya
ceritakan mulai dari sesampai saya di Yogya. Pukul 06.00 pm, saya dan teman
saya berangkat ke auditorium IFI Yogyakarta. Menembus gerimis yang cukup dingin
jika harus berdiam saja diatas motor. Ya, kami bercerita sedikit tentang Yogya,
tentang jalanan Yogya dan tentang “Pakaianku salah nggak ya malam ini?”.
Parkiran IFI
sudah begitu penuh. Tak ada tempat parkir khusus yang akan membuat motor kita
terhindar dari rintikan hujan. Motor-motor ini sama, berada disisi jalan atau
trotoar dan berlumur untaian air hujan yang terasa syahdu. Kesyahduan itu makin
bertambah ketika teman saya meminta berhenti sejenak sebelum masuk auditorium,
ia ijin untuk merapikan rambutnya yang memang terlalu berantakan berkat helm
yang dia pakai. Baiklah, kita masuk.
Auditorium pertama.
Orang-orang
dengan pakaiannya yang terlihat out of
the box sudah ramai di depan auditorium LPI. Jujur, saya sudah terlalu
biasa melihat orang-orang berpakaian macam ini, bahkan saya salah satunya. Kami
lantas membeli dua tiket seharga 20.000. Kakak manis penunggu loket terlihat
menyenangkan dengan senyum dan sapaannya yang ramah. Karena saya tidak bisa
lama-lama di Yogya, saya dan teman saya hanya bisa melihat satu pertunjukan
yang diberi waktu satu jam mulai pukul 07.00 pm. Usai membeli tiket, kami sadar
masih diberi waktu 30 menit sebelum pertunjukan dimulai.
Diluar
auditorium IFI, kami menunggu pertunjukan Anino Shadowplay. Banyak turis
berkumpul disana, kami mencoba bergabung dengan mereka. Tak disangka kami
berasal dari daerah yang sama, Solo. Saya dan teman saya sempat berbisik “dunia
sempit”, dan sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan kalimat itu, karena
dunia terlalu luas untuk kita kunyah. Akhirnya pertunjukan yang kami tunggu
akan dimulai. Pukul 07.00 pm, kami masuk ke auditorium IFI yang tidak terlalu
luas, tapi juga tidak sempit.
Saya agak gugup
karena takut mengecewakan teman saya. Takut ia tidak terlalu suka dengan
pertunjukan macam ini. Takut kecewa sudah saya repotkan hanya untuk petunjukan
macam ini. Dan kami duduk dibarisan atas. Duduk manis berdua menikmati setiap
susunan acara yang ada. Dimulai dari Ria Papermoon yang membuka pertunjukan
Anino Shadowplay dari Philippines. Saya makin gugup, menerka-nerka kata
“Shadowplay”, shadow adalah bayangan, play adalah main, jadi main bayangan?
Saya sudah berpikir ini pasti kekaanak-kanakan dan pasti teman saya tidak suka.
Berbeda dengan saya yang memang menyukai aroma kekanak-kanakan. Sungguh, saya
gugup dan tidak sabar.
Auditorium kedua.
Visualnya
begini, kita berada didalam ruang penuh warna hitam. Dengan tempat duduk
penonton dari arah depan dan bertingkat. Didepan ada kain siluet persegi yang
mirip layar tancap mini. Kemudian setelah sinopsis dibacakan, ruang menjadi
gelap. Suara kemeresek berisik keluar dari balik siluet sebelah kiri penonton.
Seorang crew Anino keluar membawa
plastik bening dan panjang, tangannya meremas-remas plastik hingga keluar bunyi
yang perlahan mirip ombak dipantai. Penonton juga diajak meremas-remas plastik
itu.
Kami berdua bergumam lirih “Ini Laut kak.” Anino berhasil
membawa suasana pertama didalam auditorium mungil menjadi laut dengan ombak
yang terdengar gemuruh. Saya melirik teman saya, oh dia tersenyum dan mulai
menjepret moment dengan SLRnya. Saya sedikit lega.
Kemudian siluet
hidup. Sebuah janin Nampak tergambar disiluet. Janin dalam rahim Ibu yang mulai
bergerak memutar untuk lahir kedunia. Lagi-lagi saya terkesima, musik dengan
suara bayi menangis mengena ditelinga dan hati saya. Rasa-rasanya seperti
berhasil mengingat betapa nyamannya rahim ibu dan plasenta yang menemani kita.
Saya juga jadi ingat pada kakak saya yang istrinya tengah hamil lima bulan.
Kemudian
gambaran tokoh Don dalam cerita yang berjdul “Arkipelago
2: A Story of Intima-Sea” mulai tumbuh menjadi anak-anak dan
bermain dengan hewan di laut biru.
Don tumbuh dewasa, ia mulai mengenal baik lautan. Namun
perlahan ia berubah menjadi laut itu sendiri, menjadi pencipta semesta laut
sekaligus menjadi penghancur. Don kemudian berada pada dunia yang baru, dunia
diatas awan. Karya ini memang terinspirasi dari seorang Don, kawan seniman
Anino yang barang kali sudah meninggal. Suatu memori memang selalu menakjubkan
ketika diingat lewat karya seni.
Malam Ajaib.
Lagi-lagi saya melirik teman saya,
memastikan untuk kesekian apakah ia suka atau tidak. Baiklah, senyumnya
mengembang. Artinya ia suka. Dia bilang pertunjukan malam itu adalah
pembelajaran baru bagi dirinya yang berkecimpung dalam dunia seni rupa. Usai
pertunjukan Anino kami melihat-lihat perangkat apa saja yang digunakan Anino
dari belakang siluet. Pertunjukan ini memang sama dengan Wayang Kulit di
Indonesia, hanya saja lebih modern sekaligus menggunakan bahan boneka yang
sederhana, yaitu kertas.
Saya sangat amat menyukai laut.
Pertunjukan Anino malam itu memberikan kesan malam ajaib bagi saya. Saya seolah
terhipnotis dengan suasana yang kadang senang lalu sedih lalu mengerikan. Saya
jadi teringat sahabat semasa SMP yang kini telah menghuni Nirwana Tuhan. Kalau
saja saya salah satu anggota Anino, saya akan masukan nyawa sahabat saya pada
karya saya. Sebenarnya pertunjukan setelah Anino lebih bagus lagi, dari tuan
rumah yaitu Papermoon, teater boneka asal Yogya yang sekaligus menjadi tim
penggagas Pesta Boneka #4. Tapi waktu saya sudah habis, saya harus naik kereta
untuk kembali ke Solo lagi.
Andaikan Ada
Sebuah Karya.
Diperjalanan. Teman saya lagi-lagi mau
saya repotkan untuk mengantar ke station Lempuyangan. Kami berbagi pendapat
soal acara Pesta Boneka. Saya bilang saya ingin dengan sangat membuat karya
yang sama, menyatukan seni rupa, musik, sastra dan seni tari didalamnya.
Kemudian menjadi salah satu peserta Pesta Boneka, syukur-syukur keluar negeri.
Teman saya bilang ia juga ingin, tapi mungkin akan sedikit sulit. Saya
mengerti, karena kami sama-sama belum memiliki pengalaman yang banyak soal
pertunjukan teater boneka. Berbincangan itu hanya barang kali akan menjadi
semacam cita-cita semu yang entah kapan akan mampu terwujud.
Perjalanan
Manis.
Baiklah, kami berpisah sementara. Ya
sementara, karena teman saya rumahnya juga di Karanganyar Surakarta, hanya saja
ia baru bias pulang ke Solo besuk pagi. Perpisahan kami diiringi rintik hujan
yang berkali-kali saya katakana syahdu. Lantas saya duduk dikursi tunggu usai
membeli tiket. Pukul 10.16 pm saya baru bias duduk manis dan mengantuk didalam
kereta. Membawa mimpi-mimpi kekanak-kanakan tentang pentas malam ini. Kemudian
pikiran saya tertuju pada kalimat lama, senyum saya mengembang sambil bergumam
“Tanpa kekasih saya bisa berjalan-jalan sejauh ini dan menikmati perjalanan,
sangat indah.”

