“Kenapa suka
memfoto kaki Dik?”
Sebuah
pertanyaan yang sering saya dengar ketika ada seseorang yang sengaja
membuka-buka folder foto di hp saya. Ya, kenapa kaki ya? Saya punya banyak alasan
untuk jawaban tersebut. Bisa jadi karena Cuma kaki saya yang terlihat bagus
jika di foto, atau karena sepatu saya baru, juga karena terobsesi dengan
kakinya Zooy Deschanel (desainer bertema 60an).
Tapi
sesungguhnya bukan itu jawaban yang pas. Saya punya jawaban non logis. Jawaban
yang saya sendiri kurang tahu betul, apakah sifatnya normal atau tidak. Jadi
begini, saya selalu merasa bahwa segala hal yang turun ke bumi, tumbuh dibumi
dan muncul dari bumi, adalah hal yang tidak pernah sia-sia dan selalu memiliki
arti.
Sama halnya
dengan kaki. Mereka ada di bawah tubuh kita. Menopang tulang tengkorak hingga
selangkangan. Ketika saya berdiri, mengiinjak bumi, berada diatas tanah,
rumput, pasir, aspal, ubin dan tangga sekalipun. Saya merasa aneh, ajaib,
seperti memiliki seperempat dari dunia. Menginjak ciptaan Tuhan lainnya.
Rasanya…..ah saya sudah bilang ini non logis.
Saya merasa
tubuh saya akan limbung jika kaki tidak menyentuh sesuatu. Saya merasa ingin
terus menari jika melihat kaki saya menyentuh ubin pendhapa. Rasanya ada
keunikan tersendiri.
Andai kau sadar betapa sunyi langkah yang
kau buat
Tak
kan perih jari-jarimu melangkah begitu cepat.
Demi
mengukir jarak pada punggung-punggung kita.
Karena
aku disini, berusaha keras agar jejakmu tak tehapus lagi.
Sebenarnya
karena saya menyukai seseorang yang berjalan kaki teramat cepat dan
berpuluh-puluh kilo meter dia tempuh sendiri. Sadarkah ia, saya sangat ingin
menemani langkah kakinya. Tidak muluk berjajar dengan kakinya, dibelakangnyapun
saya terima.

0 komentar:
Posting Komentar