Pages

Senin, 26 November 2012

"Maaf Teman...Tingkah Kamu Masih Terngiang..."



            Betapa sangat menyakitkannya kejadian ini. Ketika tanpa sadar aku sudah berada pada tahab dosa yang sulit dimaafkan hanya dengan perasaan saja. Bahkan bisa dikatakan bahwa Tuhan saja akan sulit memaafkanku. Aku sudah melakukan kesalahan yang benar-benar salah. Dan aku hanya bisa meminta maaf pada setiap masa depan yang mulai mengungkit-ungkit ingatan masa laluku.
            Air mataku sudah tidak bisa lagi bercucuran ketika rasa sakit itu hadir. Rasa sakit yang muncul karena ulahku sendiri. Ulah yang sudah membuat satu nyawa mati dan mungkin nanti ia tidak ingin mengenalku ketika akhir dunia sudah muncul.
            “Mah... ampun mah, sakit...sakit mah...” Teriakku ketika rasa sakit itu mulai turun hingga jari-jari kakiku.
            “Mah...biarain aku mati juga ma...sakit..” Teriakku lagi.
            Sakit, sakit, dan sakit hanya kata itu yang bisa aku keluarkan sambil menjerit sejadi-jadinya. Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku seberani ini melakukan hal yang benar-benar sudah dikutuk di dalam semua kitab beragama, dan aku adalah salah satu orang yang beragama. Kenapa aku bisa seceroboh ini!
            “Tenang, aku akan menikahimu jika sesuatu terjadi kepadamu.” Kata seorang lelaki yang ikut menjadi peran utama penyebab kesalahan ini. Tapi aku tidakbisa mengatakan ia benar-benar ikut salah, karena ia lelaki sejati yang mau bertanggung jawab atas hasil karyanya. Tapi aku, aku belum siap menerima segala kenyataan ini. Aku benar-benar tidak bisa menerima apa yang sudah disepakati oleh lelaki itu kepadaku.
            “Tidak perlu, aku sudah mengambil jalanku sendiri.” Jawabku.
            Sungguh, bukan maksudku untuk menyakiti keinginanmu, atau hanya untuk mempermainkan hatimu, tapi sungguh, aku belum siap untuk menjadi bahan tertawaan orang-orang tentang ini semua. Maaf.
            “ah...aku sudah tidak kuat lagi mah...sakit.” lagi-lagi aku berteriak seperti orang yang ingin di mutilasi.
            Dan ketika rasa sakit yang terakhir mendera, warna merah pekat menjalar di sekitar kakiku. Rasanya aku memutilasi saja kakiku itu. Kaki yang sudah banyak melakukan segala dosa ini. Sebuah nyawa telah terbunuh dengan paksa sebelum ia benar-benar hidup.
            Janin yang baru berusia 4 bulan ini belum sempat merasakan kehangatan plasenta dengan jangka waktu yang semestinya. Ia bahkan belum tahu bagaimana caranya melihat dunia. Maafkan aku nak, kamu harus rela termutilasi oleh kesalahanku sendiri.
 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates