Betapa
sangat menyakitkannya kejadian ini. Ketika tanpa sadar aku sudah berada pada
tahab dosa yang sulit dimaafkan hanya dengan perasaan saja. Bahkan bisa
dikatakan bahwa Tuhan saja akan sulit memaafkanku. Aku sudah melakukan
kesalahan yang benar-benar salah. Dan aku hanya bisa meminta maaf pada setiap
masa depan yang mulai mengungkit-ungkit ingatan masa laluku.
Air
mataku sudah tidak bisa lagi bercucuran ketika rasa sakit itu hadir. Rasa sakit
yang muncul karena ulahku sendiri. Ulah yang sudah membuat satu nyawa mati dan
mungkin nanti ia tidak ingin mengenalku ketika akhir dunia sudah muncul.
“Mah...
ampun mah, sakit...sakit mah...” Teriakku ketika rasa sakit itu mulai turun
hingga jari-jari kakiku.
“Mah...biarain
aku mati juga ma...sakit..” Teriakku lagi.
Sakit,
sakit, dan sakit hanya kata itu yang bisa aku keluarkan sambil menjerit
sejadi-jadinya. Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku seberani ini melakukan hal
yang benar-benar sudah dikutuk di dalam semua kitab beragama, dan aku adalah
salah satu orang yang beragama. Kenapa aku bisa seceroboh ini!
“Tenang,
aku akan menikahimu jika sesuatu terjadi kepadamu.” Kata seorang lelaki yang
ikut menjadi peran utama penyebab kesalahan ini. Tapi aku tidakbisa mengatakan
ia benar-benar ikut salah, karena ia lelaki sejati yang mau bertanggung jawab
atas hasil karyanya. Tapi aku, aku belum siap menerima segala kenyataan ini. Aku
benar-benar tidak bisa menerima apa yang sudah disepakati oleh lelaki itu
kepadaku.
“Tidak
perlu, aku sudah mengambil jalanku sendiri.” Jawabku.
Sungguh,
bukan maksudku untuk menyakiti keinginanmu, atau hanya untuk mempermainkan
hatimu, tapi sungguh, aku belum siap untuk menjadi bahan tertawaan orang-orang
tentang ini semua. Maaf.
“ah...aku
sudah tidak kuat lagi mah...sakit.” lagi-lagi aku berteriak seperti orang yang
ingin di mutilasi.
Dan
ketika rasa sakit yang terakhir mendera, warna merah pekat menjalar di sekitar
kakiku. Rasanya aku memutilasi saja kakiku itu. Kaki yang sudah banyak
melakukan segala dosa ini. Sebuah nyawa telah terbunuh dengan paksa sebelum ia
benar-benar hidup.
Janin
yang baru berusia 4 bulan ini belum sempat merasakan kehangatan plasenta dengan
jangka waktu yang semestinya. Ia bahkan belum tahu bagaimana caranya melihat
dunia. Maafkan aku nak, kamu harus rela termutilasi oleh kesalahanku sendiri.

0 komentar:
Posting Komentar