Pages

Senin, 15 Desember 2014

"Selalu Ada Yang Menarik Ketika Kita Menikmati Perjalanan"





     Manusia terlahir, tumbuh, mengalami masa kanak-kanak, berpetualang, jadi dewasa, dan menghilang.

     Malam itu, lima Desember 2014, kalimat diatas adalah apa yang saya temukan dalam suatu pementasan yang luar biasa manis. Saya sengaja datang ke Yogyakarta, berniat membaca beberapa referensi ke perpustakaan UNY. Petualangan saya hari itu memang terlampau sederhana. Bahkan tak lebih mewah dari rangkaian kembang melati pada rambut seorang penari Bedhaya.
     Saya naik kereta pukul 09.10 pagi dari station Balapan Solo. Station yang pernah memberikan inspirasi lirik lagu romantis namun menyakitkan milik seniman campursari asli Solo, Didi Kempot. Seorang teman yang baik, kuliah di Yogya sudah mau membantu saya untuk menjemput di station Lempuyangan dan menampung saya selama satu hari di Yogya. Langit tak terlalu cerah, udara masih saja terasa lembut dan dingin. Sama seperti di Karanganyar, kadang dingin lalu mendung dan gerimis. Menyapu lelah perjalanan yang hanya duduk menatap jendela luar. 

     Baiklah, saya akan langsung mulai dari malam hari saja. Karena akan terlalu panjang jika saya ceritakan mulai dari sesampai saya di Yogya. Pukul 06.00 pm, saya dan teman saya berangkat ke auditorium IFI Yogyakarta. Menembus gerimis yang cukup dingin jika harus berdiam saja diatas motor. Ya, kami bercerita sedikit tentang Yogya, tentang jalanan Yogya dan tentang “Pakaianku salah nggak ya malam ini?”.
     Parkiran IFI sudah begitu penuh. Tak ada tempat parkir khusus yang akan membuat motor kita terhindar dari rintikan hujan. Motor-motor ini sama, berada disisi jalan atau trotoar dan berlumur untaian air hujan yang terasa syahdu. Kesyahduan itu makin bertambah ketika teman saya meminta berhenti sejenak sebelum masuk auditorium, ia ijin untuk merapikan rambutnya yang memang terlalu berantakan berkat helm yang dia pakai. Baiklah, kita masuk.


     Auditorium pertama.
     Orang-orang dengan pakaiannya yang terlihat out of the box sudah ramai di depan auditorium LPI. Jujur, saya sudah terlalu biasa melihat orang-orang berpakaian macam ini, bahkan saya salah satunya. Kami lantas membeli dua tiket seharga 20.000. Kakak manis penunggu loket terlihat menyenangkan dengan senyum dan sapaannya yang ramah. Karena saya tidak bisa lama-lama di Yogya, saya dan teman saya hanya bisa melihat satu pertunjukan yang diberi waktu satu jam mulai pukul 07.00 pm. Usai membeli tiket, kami sadar masih diberi waktu 30 menit sebelum pertunjukan dimulai.
     Diluar auditorium IFI, kami menunggu pertunjukan Anino Shadowplay. Banyak turis berkumpul disana, kami mencoba bergabung dengan mereka. Tak disangka kami berasal dari daerah yang sama, Solo. Saya dan teman saya sempat berbisik “dunia sempit”, dan sebenarnya saya tidak terlalu setuju dengan kalimat itu, karena dunia terlalu luas untuk kita kunyah. Akhirnya pertunjukan yang kami tunggu akan dimulai. Pukul 07.00 pm, kami masuk ke auditorium IFI yang tidak terlalu luas, tapi juga tidak sempit.
     Saya agak gugup karena takut mengecewakan teman saya. Takut ia tidak terlalu suka dengan pertunjukan macam ini. Takut kecewa sudah saya repotkan hanya untuk petunjukan macam ini. Dan kami duduk dibarisan atas. Duduk manis berdua menikmati setiap susunan acara yang ada. Dimulai dari Ria Papermoon yang membuka pertunjukan Anino Shadowplay dari Philippines. Saya makin gugup, menerka-nerka kata “Shadowplay”, shadow adalah bayangan, play adalah main, jadi main bayangan? Saya sudah berpikir ini pasti kekaanak-kanakan dan pasti teman saya tidak suka. Berbeda dengan saya yang memang menyukai aroma kekanak-kanakan. Sungguh, saya gugup dan tidak sabar.

     Auditorium kedua.
     Visualnya begini, kita berada didalam ruang penuh warna hitam. Dengan tempat duduk penonton dari arah depan dan bertingkat. Didepan ada kain siluet persegi yang mirip layar tancap mini. Kemudian setelah sinopsis dibacakan, ruang menjadi gelap. Suara kemeresek berisik keluar dari balik siluet sebelah kiri penonton. Seorang crew Anino keluar membawa plastik bening dan panjang, tangannya meremas-remas plastik hingga keluar bunyi yang perlahan mirip ombak dipantai. Penonton juga diajak meremas-remas plastik itu.


Kami berdua bergumam lirih “Ini Laut kak.” Anino berhasil membawa suasana pertama didalam auditorium mungil menjadi laut dengan ombak yang terdengar gemuruh. Saya melirik teman saya, oh dia tersenyum dan mulai menjepret moment dengan SLRnya. Saya sedikit lega.
     Kemudian siluet hidup. Sebuah janin Nampak tergambar disiluet. Janin dalam rahim Ibu yang mulai bergerak memutar untuk lahir kedunia. Lagi-lagi saya terkesima, musik dengan suara bayi menangis mengena ditelinga dan hati saya. Rasa-rasanya seperti berhasil mengingat betapa nyamannya rahim ibu dan plasenta yang menemani kita. Saya juga jadi ingat pada kakak saya yang istrinya tengah hamil lima bulan.



  

     Kemudian gambaran tokoh Don dalam cerita yang berjdul “Arkipelago 2: A Story of Intima-Sea” mulai tumbuh menjadi anak-anak dan bermain dengan hewan di laut biru.     
Don tumbuh dewasa, ia mulai mengenal baik lautan. Namun perlahan ia berubah menjadi laut itu sendiri, menjadi pencipta semesta laut sekaligus menjadi penghancur. Don kemudian berada pada dunia yang baru, dunia diatas awan. Karya ini memang terinspirasi dari seorang Don, kawan seniman Anino yang barang kali sudah meninggal. Suatu memori memang selalu menakjubkan ketika diingat lewat karya seni.    
     Malam Ajaib.   
Lagi-lagi saya melirik teman saya, memastikan untuk kesekian apakah ia suka atau tidak. Baiklah, senyumnya mengembang. Artinya ia suka. Dia bilang pertunjukan malam itu adalah pembelajaran baru bagi dirinya yang berkecimpung dalam dunia seni rupa. Usai pertunjukan Anino kami melihat-lihat perangkat apa saja yang digunakan Anino dari belakang siluet. Pertunjukan ini memang sama dengan Wayang Kulit di Indonesia, hanya saja lebih modern sekaligus menggunakan bahan boneka yang sederhana, yaitu kertas.
Saya sangat amat menyukai laut. Pertunjukan Anino malam itu memberikan kesan malam ajaib bagi saya. Saya seolah terhipnotis dengan suasana yang kadang senang lalu sedih lalu mengerikan. Saya jadi teringat sahabat semasa SMP yang kini telah menghuni Nirwana Tuhan. Kalau saja saya salah satu anggota Anino, saya akan masukan nyawa sahabat saya pada karya saya. Sebenarnya pertunjukan setelah Anino lebih bagus lagi, dari tuan rumah yaitu Papermoon, teater boneka asal Yogya yang sekaligus menjadi tim penggagas Pesta Boneka #4. Tapi waktu saya sudah habis, saya harus naik kereta untuk kembali ke Solo lagi.

Andaikan Ada Sebuah Karya.
Diperjalanan. Teman saya lagi-lagi mau saya repotkan untuk mengantar ke station Lempuyangan. Kami berbagi pendapat soal acara Pesta Boneka. Saya bilang saya ingin dengan sangat membuat karya yang sama, menyatukan seni rupa, musik, sastra dan seni tari didalamnya. Kemudian menjadi salah satu peserta Pesta Boneka, syukur-syukur keluar negeri. Teman saya bilang ia juga ingin, tapi mungkin akan sedikit sulit. Saya mengerti, karena kami sama-sama belum memiliki pengalaman yang banyak soal pertunjukan teater boneka. Berbincangan itu hanya barang kali akan menjadi semacam cita-cita semu yang entah kapan akan mampu terwujud.

Perjalanan Manis.
Baiklah, kami berpisah sementara. Ya sementara, karena teman saya rumahnya juga di Karanganyar Surakarta, hanya saja ia baru bias pulang ke Solo besuk pagi. Perpisahan kami diiringi rintik hujan yang berkali-kali saya katakana syahdu. Lantas saya duduk dikursi tunggu usai membeli tiket. Pukul 10.16 pm saya baru bias duduk manis dan mengantuk didalam kereta. Membawa mimpi-mimpi kekanak-kanakan tentang pentas malam ini. Kemudian pikiran saya tertuju pada kalimat lama, senyum saya mengembang sambil bergumam “Tanpa kekasih saya bisa berjalan-jalan sejauh ini dan menikmati perjalanan, sangat indah.”

" Pesta Boneka #4 : Boneka Penyimpan Kenanggan"






            Boneka selalu menyimpan kenangan-kenangan indah atau bahkan menyedihkan pada kehidupan manusia. Kenangan-kenangan yang terasa bisu namun memiliki nyawa mengendap pada raga sebuah boneka. Papermoon Puppet Theatre, terbentuk atas ide-ide kreatif sejak delapan tahun lalu. Kelompok teater boneka yang berasal dari Yogyakarta ini merayakan perjalanan mereka dalam Pesta Boneka #4 di Yogyakarta pada 5-7 Desember 2014.
            Bayangan Kenangan.
            Bunyi-bunyian gemuruh ombak terdengar didalam ruang panggung. Plastik bening berukuran panjang diremas-remas beberapa penonton yang duduk dibagian depan, menambah gemuruh ombak laut yang sungguh terasa tenang. Perlahan gelapnya auditorium IFI Yogyakarta menjelma pinggiran pantai yang teduh. Siluet bayi didalam rahim seorang Ibu tersaji didepan panggung. Tak hanya bayi, siluet tersebut menjelma menjadi metamorfosis perjalanan seorang manusia didunia.
            Anino Shadowplay menyuguhkan boneka sederhana yang terpampang lewat bayangan kain putih. Sekilas pertunjukan ini mirip dengan Wayang di Indonesia. Kelompok seniman multimedia asal Filipina ini mewarnai hari pertama perhelatan Pesta Boneka #4. Pertunjukan Shadowplay bertajuk “Arkipelago 2: A Story of Intima-Sea” yang terinspirasi dari kenangan seorang kawan bernama Don. Don terlahir dan tumbuh juga bermain dengan hewan-hewan dilautan biru. Hingga akhirnya ia menjadi lautan itu sendiri, yang berperan sebagai pencipta dan penghancur. Don seolah terlahir kembali diatas lautan awan. Pertunjukan yang berdurasi hampir satu jam ini mampu memanjakan mata kita pada kecanggihan multimedia yang terlihat disederhanakan oleh seni.
            Tak Harus Boneka.
            Anino Shadowplay cukup memukau pada hari pertama (5/12). Tak hanya sajian seni rupa multimedia saja, dua sajian yang lain yaitu dari Belen Rubira dan Cake Industries feat Pepormoon Puppet Theatre juga tidak kalah menarik. Menariknya tersaji juga happening art yang disuguhkan oleh Tokyo Independent Collaboratoty salah satu pengisi acara Pesta Boneka #4, memberikan kesan “tak harus dengan boneka” pada karya seni mereka. Lewat video dan media kue TIC menyampaikan pesan bagaimana rasanya menjadi boneka, meskipun pada happening art tersebut tak ada boneka yang ikut serta bermain-main. Justru TIC membuat peserta merasa seakan-akan mereka sendiri adalah boneka.
            Pesta Boneka #4 menjadi ajang berkumpulnya seniman-seniman boneka belahan dunia untuk menunjukan karya-karyanya. Tak hanya dari luar negeri, boneka asli Indonesia yaitu wayang Jawa yang tampil pada minggu (7/12) juga turut mewarnai pesta ini. Pesta Boneka #4 adalah suguhan karya seni yang dapat disaksikan oleh semua umur. Suguhan semacam ini sangat dibutuhkan untuk terus menggali ide-ide kreatif para seniman. Selain tempat menampilkan curahan pengalama jiwa seniman lewat karya seni, Pesta Boneka #4 sangat memberikan berbagai kesan emosi jiwa pada penonton. Boneka-boneka yang ternyata hanya benda mati yang diam, mampu membawa penonton pada nostalgia-nostalgia dan bagian dunia yang hanya mampu disentuh oleh hati.
             

Selasa, 21 Oktober 2014

"Retno Maruti, Kecantikan Yang Sesungguhnya"



Ia terlihat melangkahkan kaki memasuki sebuah gedung teater yang cukup besar. Sore itu, dengan angin yang cukup berdesir dingin menyentuh pori-pori kulit. Retno Maruti yang masih terlihat sangat segar dengan usia yang menginjak enam decade lebih, menyalami satu-persatu orang-orang didalam gedung. Senyumnya nampak ramah, tenang dan melukiskan kecantikan sejati seorang wanita Indonesia. Suaranya yang lembut lekas menyapa orang-orang disekitarnya. Tak disangka, penari Kijang Kencana pada Ramayana Prambanan tahun 1960-an dan mendapat sanjungan dari Soekarno kini menjadi sosok wanita yang memikat dunia lewat tarian.
            Retno Maruti tengah berproses di Kota Solo selama tiga hari mulai 18 Oktober 2014, mengusung kembali karyanya Roro Mendut yang pernah tampil di Negara Jerman. Roro Mendut kali ini akan ditampilkan di Teater Taman Ismail Marzuki pada akhir Oktober 2014 nanti. Disela-sela istirahat latihan, Retno Maruti dengan ramah membagikan kisah-kisahnya tentang pengalaman ketika menari Kijang di Ramayana Prambanan. Raut wajahnya begitu sumringah ketika ditanyai tentang masa-masa remajanya itu. Mendengarkan Retno Maruti bercerita seperti membaca dongeng petualangan yang sangat menyita perhatian.
            “Dulu penari tidak boleh terlihat bagian ketiaknya ketika menari. Orang Jawa bilang ra ilok, jadi kalau sekarang kostum Kijang itu hanya memakai mekak dulu saya memakai baju. Tetapi yang terpenting dalam sebuah tari bukanlah tentang fisiknya, namun tentang rasa, bagaimana cara kita menghidupkan karakter agar memikat para penonton, lewat hati.” Begitulah Retno Maruti menjelaskan.
            Tarian Kijang Kencana pada salah satu adegan Ramayana yang ditarikan oleh Retno Maruti sering disebut Tari Pikatan. Tari Pikatan disini adalah tarian yang bertujuan untuk memikat hati, hati yang terpikat adalah milik Sinta agar ia tergerak untuk memiliki Kijang yang lincah dan cantik itu. Retno Maruti juga bercerita betapa pengalaman menari di Parmbanan pada era 60-an adalah pengalaman menari yang benar-benar menguras kreatifitas tinggi. Pada jaman 60-an area Prambanan yang digunakan untuk menari lebih luas dua kali lipat katimbang yang sekarang. Dengan luas panggung yang lebar membuat Bu Retno yang masih berumur 16 tahun mengerahkan segala tenaga kelincahannya untuk menari. Tidak hanya lebar, ia harus menari sebagai Kijang sendirian, hanya sendiri.
            “Coba bayangkan mbak, dengan panggung yang sangat luas itu saya lari kesana, lari kesini, melompat dan menari dengan lincah. Ketika gending Kemanak itu muncul, saya merasa bahwa panggung itu untuk saya, music itu untuk saya, saya merasa bebas dan sangat bahagia. Pada umur saya yang masih sangat muda itu saya hanya berpikir untuk tidak takut salah, tidak takut mencoba.” Wajahnya yang masih selalu ayu itu memancarkan binaran sepasang mata yang indah.
            Retno Maruti bercerita bagaimana prosesnya ketika menari Kijang hingga mampu sehidup itu. Beliau mengaku bahwa untuk menari dengan baik ia harus mengerti lebih dahulu tentang gendingnya. Menghafal ketukan-ketukan didalamnya, ia harus mengingat betul pada bagian mana ia harus melompat, berdiri, srisig dan melakukan gerak-gerak tari yang lain. Dengan keahliannya yang mampu menghidupkan karakter Kijang yang lincah dan lucu, maka tidak heran jika Kijang milik Bu Retno Maruti menjadi contoh munculnya Kijang-kijang Kencana yang lain.
            Kemenarikan Bu Retno Maruti tidak hanya terletak pada masa remajanya di tarian Kijang. Karya-karyanya yang tertuang dalam komposisi-komposisi tari tradisi yang lebih mengarah pada tema-tema perempuan adalah kecantikan sejati yang ia miliki. Beberapa karyanya seperti Roro Mendut, Sawitri, Sekar Pembayun dan Keong Emas adalah karya-karya yang menunjukan identitasnya sebagai seorang perempuan. Beliau mampu mengusung perjuangan-perjuangan perempuan pada karya-karyanya, emansipasi wanita sangat erat kaitannya dengan ekspresi pengalaman jiwa yang kemudian ia tuangkan lewat tarian. Sungguh, kecantikan yang nyata tertuang dalam diri Retno Maruti, ia mampu mewakili kekuatan dan kecerdasan perempuan lewat tari. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya selalu ditemui di Negara kita, Indonesia. Perempuan-perempuan yang tidak hanya mengedepankan kecantikan fisik pada dunia, namun juga menunjukan kekuatan mereka lewat kemampuannya untuk berkarya.

Minggu, 27 Juli 2014

"Surga Dunia Itu Sederhana...."


“Surga dunia itu sederhana…
Kita tidak perlu repot berteriak diatas kasur dan meremas-remas sprei…
Berlarilah kepantai, rasakan pasir dan deguban ombaknya…
Jika bisa berenang merapatlah ketepian, jangan takut butiran pasir memasuki kantung celanamu…jangan takut tenggelam, aku ada disini, dibelakang punggungmu.” kata Udi usai menengguk secangkir susu cokelatnya.

Surga Dunia Itu Sederhana

            Peradaban yang semakin maju tidak lekas membuat semua tempat menjadi puluhan gedung-gedung ditengah kota. Sebuah Desa yang terdengar jauh dan terpencil, menyimpan suatu estetika bumi tersendiri. Kita hanya perlu menuju Kabupaten Pacitan. Pada bagian Desa Widoro Kecamatan Donorojo, kita akan menemukan surga dunia yang tersembunyi. Untuk menuju Desa Widoro, kalia bias lewat jalur ke Gua Gong, jalan utama Pacitan-Solo. Sesampainya di kawasan Gua Gong, ambil arah jalan ke Kalak, kemudian selebihnya saya lupa, silahkan bertanya pada warga setempat, akan lebih akrab jika kita mau bertanya.

 Berada pada atas bukit batu yang terjal. Sebuah laut terbentang dengan ombak yang membiru. Puluhan hektar kebun kelapa muda terhampar disepanjang jalan menuju laut. Kita akan melihat warga Donorojo yang memanen kelapa muda, para warga yang ramah dan terbuka. Mereka tidak akan membuat kalian tersesat, mereka akan menjaga kalian ketika kalian ada disana. Belum lagi, sebelum kita melihat air laut, hamparan padang rumput dengan gubuk-gubuk kecil terpampang didepan kita. Sebagian orang barang kali akan merasa seperti berada di peternakan, namun tidak ada hewan apapun. Tengoklah sebelah barat ketika senja, matahari tenggelam diarah sana.

 

Kita memang akan terlalu sulit untuk turun menuju laut. Batu yang terjal dan jalanan yang turun membuat kaki kita sedikit kerepotan. Angin yang bertiup akan membuat badan kita yang kelelahan usai perjalanan menuju laut menjadi lebih tenang. Pasir putihnya menyapa kita dari kejauhan. Inilah pantai Buyutan. Terdapat batu karang yang sangat khas berdiri tegak ditengah laut. Karang itu membuat saya melihatnya sebagai seorang laki-laki bermahkota tengah menatap birunya laut. Konon, mitos warga setempat mengatakan bahwa Mahkota Dewa Narada terjatuh disekitar area itu.

 

 


Pantai yang masih polos dengan karangnya yang besar dan kokoh. Ombak yang bergulung berkejaran didepan kita. Alam menyediakan banyak kenikmatan. Air laut yang mengalir tak pernah berhenti. Pasir yang selalu tenggelam kedalam lautan tak kan pernah meninggalkan luka pada kaki-kaki kita. Meluangkan pernapasan kita sejenak untuk menghirup udara pada tepian laut, adalah kesibukan yang tepat untuk memilih pantai Buyutan. Datanglah pada angin dipantai ini, kesegaran akan membawa kalian terjaga untuk tetap bersyukur pada yang kuasa. Saya tidak akan banyak menulis, silahkah lihat fotonya saja.


 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates