Referensi
1
Buku :
Ilmu Tari Joged Gaya Kasunanan Surakarta
Karya : Dr. Nanik Sri Prihatin, S.kar,
M. Si. Dkk.
Penerbit : ISI Press Solo
Tahun
terbit : 2007
Halaman : 45 – 47
Didalam
buku tersebut membahas sedikit tentang Hasta Sawanda. Dimana Hasta Sawanda
adalah sebuah kaidah tari tradisi gaya Surakarta, Hasta Sawanda adalah dasar
utama untuk melakukan tari tradisi gaya Surakarta. Disebutkan juga Hasta
Sawanda adalah sebuah konsep dalam tari tradisi gaya Surakarta yang terdiri
dari :
1.
Pacak
2.
Pancat
3.
Ulat
4.
Lulut
5.
Luwes
6.
Wilet
7.
Irama
8.
Gendhing
Hasta Sawanda sendiri mulai berkembang
sejak berdirinya Himpunan Budaya
Surakarta pada tahun 1950. Gagasan Hasta Sawanda pertama kali dicetuskan
oleh R.T. Atmokesowo. Ia menyatakan bahwa Hasta Sawanda adalah tolak ukur bagi
penari untuk dikatakan sempurno.
Disamping dasar seseorang untuk mencapai tataran kualitas kepenarian yang lebih
baik.
Referensi 2
Buku : Tari Tradisi Gaya Surakarta (tugas akhir)
Kaya :
Heny windhar Tiningsih
Tahun : 2008
Dalam
hasil tugasnya Heny menuliskan bahwa Hasta Sawanda adalah 8 prinsip tari
tradisi gaya Surakarta. Ia menjelaskan satu persatu tentang bagian-bagian Hasta
Sawanda yang terdiri dari 8 prinsip.
1.
Pacak
adalah bentuk dasar dan kualitas gerak tertentu yang ada hubungannya dengan
karakter yang dibawakan.
2.
Pancat
adalah peralihan dari gerak satu ke gerak berikutnya yang telah diperhitungkan
dengan matang.
3.
Ulat
adalah pandangan mata dan pengarahan ekspresi wajah sesuai dengan karakter
serta suasana yang dibawakan.
4.
Lulut
adalah gerak yang sudah menyatu dengan penarinya, seolah-olah dalam menari
tidak dipikirkan lagi, yang ada hanya keutuhan tari itu sendiri.
5.
Luwes
adalah kualitas gerak yang sesuai dengan bentuk dan karakter peran yang
dibawakan.
6.
Wilet
adalah variasi gerak yang dikembangkan berdasarkan kemampuan bawaan penarinya.
7.
Irama
adalah menunjuk kealur garap tari secara keseluruhan dan juga menunjuk
hunbungan gerak dengan iringannya.
8.
Gendhing
adalah menunjuk ke penguasaan iringan, tapi dalam hal ini ditekankan pada
bentuk-bentuk gendhing pola tabuhan, rasa lagu, irama serta temponya.
