Pages

Selasa, 21 Oktober 2014

"Retno Maruti, Kecantikan Yang Sesungguhnya"



Ia terlihat melangkahkan kaki memasuki sebuah gedung teater yang cukup besar. Sore itu, dengan angin yang cukup berdesir dingin menyentuh pori-pori kulit. Retno Maruti yang masih terlihat sangat segar dengan usia yang menginjak enam decade lebih, menyalami satu-persatu orang-orang didalam gedung. Senyumnya nampak ramah, tenang dan melukiskan kecantikan sejati seorang wanita Indonesia. Suaranya yang lembut lekas menyapa orang-orang disekitarnya. Tak disangka, penari Kijang Kencana pada Ramayana Prambanan tahun 1960-an dan mendapat sanjungan dari Soekarno kini menjadi sosok wanita yang memikat dunia lewat tarian.
            Retno Maruti tengah berproses di Kota Solo selama tiga hari mulai 18 Oktober 2014, mengusung kembali karyanya Roro Mendut yang pernah tampil di Negara Jerman. Roro Mendut kali ini akan ditampilkan di Teater Taman Ismail Marzuki pada akhir Oktober 2014 nanti. Disela-sela istirahat latihan, Retno Maruti dengan ramah membagikan kisah-kisahnya tentang pengalaman ketika menari Kijang di Ramayana Prambanan. Raut wajahnya begitu sumringah ketika ditanyai tentang masa-masa remajanya itu. Mendengarkan Retno Maruti bercerita seperti membaca dongeng petualangan yang sangat menyita perhatian.
            “Dulu penari tidak boleh terlihat bagian ketiaknya ketika menari. Orang Jawa bilang ra ilok, jadi kalau sekarang kostum Kijang itu hanya memakai mekak dulu saya memakai baju. Tetapi yang terpenting dalam sebuah tari bukanlah tentang fisiknya, namun tentang rasa, bagaimana cara kita menghidupkan karakter agar memikat para penonton, lewat hati.” Begitulah Retno Maruti menjelaskan.
            Tarian Kijang Kencana pada salah satu adegan Ramayana yang ditarikan oleh Retno Maruti sering disebut Tari Pikatan. Tari Pikatan disini adalah tarian yang bertujuan untuk memikat hati, hati yang terpikat adalah milik Sinta agar ia tergerak untuk memiliki Kijang yang lincah dan cantik itu. Retno Maruti juga bercerita betapa pengalaman menari di Parmbanan pada era 60-an adalah pengalaman menari yang benar-benar menguras kreatifitas tinggi. Pada jaman 60-an area Prambanan yang digunakan untuk menari lebih luas dua kali lipat katimbang yang sekarang. Dengan luas panggung yang lebar membuat Bu Retno yang masih berumur 16 tahun mengerahkan segala tenaga kelincahannya untuk menari. Tidak hanya lebar, ia harus menari sebagai Kijang sendirian, hanya sendiri.
            “Coba bayangkan mbak, dengan panggung yang sangat luas itu saya lari kesana, lari kesini, melompat dan menari dengan lincah. Ketika gending Kemanak itu muncul, saya merasa bahwa panggung itu untuk saya, music itu untuk saya, saya merasa bebas dan sangat bahagia. Pada umur saya yang masih sangat muda itu saya hanya berpikir untuk tidak takut salah, tidak takut mencoba.” Wajahnya yang masih selalu ayu itu memancarkan binaran sepasang mata yang indah.
            Retno Maruti bercerita bagaimana prosesnya ketika menari Kijang hingga mampu sehidup itu. Beliau mengaku bahwa untuk menari dengan baik ia harus mengerti lebih dahulu tentang gendingnya. Menghafal ketukan-ketukan didalamnya, ia harus mengingat betul pada bagian mana ia harus melompat, berdiri, srisig dan melakukan gerak-gerak tari yang lain. Dengan keahliannya yang mampu menghidupkan karakter Kijang yang lincah dan lucu, maka tidak heran jika Kijang milik Bu Retno Maruti menjadi contoh munculnya Kijang-kijang Kencana yang lain.
            Kemenarikan Bu Retno Maruti tidak hanya terletak pada masa remajanya di tarian Kijang. Karya-karyanya yang tertuang dalam komposisi-komposisi tari tradisi yang lebih mengarah pada tema-tema perempuan adalah kecantikan sejati yang ia miliki. Beberapa karyanya seperti Roro Mendut, Sawitri, Sekar Pembayun dan Keong Emas adalah karya-karya yang menunjukan identitasnya sebagai seorang perempuan. Beliau mampu mengusung perjuangan-perjuangan perempuan pada karya-karyanya, emansipasi wanita sangat erat kaitannya dengan ekspresi pengalaman jiwa yang kemudian ia tuangkan lewat tarian. Sungguh, kecantikan yang nyata tertuang dalam diri Retno Maruti, ia mampu mewakili kekuatan dan kecerdasan perempuan lewat tari. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya selalu ditemui di Negara kita, Indonesia. Perempuan-perempuan yang tidak hanya mengedepankan kecantikan fisik pada dunia, namun juga menunjukan kekuatan mereka lewat kemampuannya untuk berkarya.

 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates