Pages

Minggu, 18 Mei 2014

"Selamat Datang Skripsi..."





     Yuhu sekali. Akhirnya saya sudah berada pada tingkat mahasiswa semester 6 hampir 7, dan artinya hampir lulus. Karena saya kuliah pada kampus yang saya anggap “Tidak Normal”, jadi saya berusaha menormalkn diri saya. Yaps, saya kuliah di Intitut Seni Indonesia di Solo. Sudah terlalu banyak mahasiswa “fosil” (Sebutan mahasiswa abadi ala Udi) disana, dan saya benar-benar tidak mau menjadi salah satunya. Saya kepengen normal dan sekidit ajaib.
     Saya mengambil skripsi, berusaha keras mencari bahan sana-sini. Kenepa keburu pengen lulus? Memang setelah lulus sudah beneran dapat kerja? Entah, jika pertanyaan macam itu yang menggelayut pada kalian, maka saya hanya akan menjawab “Saya kepengen lekas mandiri, normal, sederhana.” Itu saja.
     Saya berusaha meneliti kesenian Srandul di tempat kelahiran saya, Gunung Kidul. Jika saya tahu bahwa saya akan disambut gembira oleh warga sana, maka dari dulu dulu saya sudah ngambil skripsi deh. Rasanya proses ini terlalu ajaib dan seru. Ketika kedua mata saya terkena flu mata dan sangat sulit untuk membelalak lebar, saya rela kesana-kemari demi hal yang saya inginkan ini. Dengan ibu yang selalu mendampingi saya, meskipun saya bilang “Sudah bu, saya bisa sendiri.” Namun ia tetap akan bersi keras membantu saya tanpa harus saya meminta. Inilah yang membuat saya kepengen cepet lulus, dengan hasil yang memuaskan, cukup memuaskan bagi saya, karena saya tahu kemampuan saya tidak secanggih teman-teman yang lain.
     Proses ini akan terus berlanjut, hingga Bulan September nanti. Mungkin kita akan bisa menikmati Srandul di tempat aslinya lagi pada bulan September. Saya tidak ingin kesenian ini luntur lagi. Saya kepengen tempat lahir saya, didekat panntai ini tetap mempunyai kecirikhasannya. Jangan pergi, jangan tinggalkan saya dan anak cucu saya. Tetaplah bergemuruh bagai ombak di pantai selatan.

"Media Masa ke-2"



Akhirnya, setelah saya merombak habis pemikiran saya, meruwatnya sampai hamper muntah tiap malam minggu. Minggu 11 Mei lalu adalah minggu perdana bagi saya. Minggu perdana untuk dapat membaca cerpen saya yang dimuat di salah satu surat kabar, local. Meskipun local, tapi usaha saya benar-benar gila-gilaan.
     Saya mencoba peka dengan sekitar saya. Menyaring semua permasalahan yang sekelebat mondar-mandir di sekitar saya, di telinga saya dan di mata saya. Saya mencoba mencari seperti apakah sebenarnya kemampuan saya ini. Seberapa kuatkah saya menempuh ini semua. Meskipun saya tidak pernah merasakan permasalahan-permasalahan ini. Saya mencoba untuk berpikir secara “Liar” namun tetap teratur.
     Berhasil, berkali-kali saya mengirim tulisan ke surat kabar, sampai habis lelah saya. Tak kunjung ada nama saya yang terselip disana. Tak satupun. Cerpen-cerpen yang saya kira sudah saya tulis dengan rapi, cerita yang masuk akal dan bahasa yang mudah dimengerti. Nyatanya cerpen-cerpen itu gugur. Saya putus asa, sangat.
     Hingga saya mulai bangkit lagi. Mengolah lagi, berproses, seperti menari. Didalam seni tari, tubuh kita adalah medium utama, jangan dimanjakan, jangan tergiur dengan gerakan-gerakan manis saja. Tapi ungkapkan kesan dan suasana didalamnya, jadilah “liar”, kata dosen saya. Sayapun menggunakan metode itu kedalam tulisan saya. Jadilah beberapa tulisan yang katanya “Gila”. Satu judul tulisan saya kirim di Solopos. Lara Nala.
     Dua minggu kemudian, terbit. Minggu yang cerah dengan tulisan yang katanya “gila”. Lara Nala masuk Koran SOLOPOS 11 Mei 2014. Jelas saya heboh. Teman-teman saya mulai mau membacanya. Kritik dan saran yang sangat membangun dari mereka. Beberapa memuji, beberapa suka tapi tak mengerti, beberapa menasehati, beberapa berkata “Asu! Iso kowe Di gae ngene iki.”
     Saya bersemangat. Makin terharu karena akhirnya ada juga yang membuatkan saya ilustrasi dari cerpen yang saya tulis. Saya bahagia, bahkan ingin sekali mengucapka terimakasih sebanyak-banyaknya kepada sang illustrator Koran SOLOPOS.
     Lara Nala adalah bentuk protes. Bentuk protes seorang perempuan polos. Dalam hidupnya yang rumit, miskin dan bodoh, ia harus menghidupi dirinya, hatinya dan pikirannya. Tapi protes saja tidak cukup, kodrat, takdir dan pemikiran Tuhan lebih perkasa dari apapun. Nala menjadi Lara, membawa lara entah kemana. Ia hanya ingin tenang, damai dan hidup normal. Namun dunia seakan tak perduli. Dunia membalikan pemikirannya.
     Tulisan saya dan juga Ibu.
     Saya punya keluarga. Bukan keturunan seniman ataupun sastrawan. Keluarga adalah kumpulan orang terjujur dan menghargai kita. Ibu saya, saya menulis untuk dia. Untuk segenap keinginannya. Tak cukup. Ketika SMA, puisi saya dimuat juga di surat kabar, waktu SMA masih cenderung ke ABG-ABGan. Dan sekarang, saya mendapat tamparan mulus dari Ibu saya. Ia telah membaca cerpen saya. Kemudian ia berkata.
     “Jelek, nulis cerita kok kaya gini. Saru.” Katanya.
     “Lantas saya harus menulis tentang kancil dan buaya terus?” kata saya, nyaris menahan kejolak putus asa didalam dada. Nyaris terluka, parah.
     Ibu saya diam, baru itulah koment yang mampu membuat saya merasa tidak bisa apa-apa. Sebagai anak mereka, haruskah saya tetap, selalu mengikuti pemikiran mereka? Mereka melalui masa remaja dalam generasi yang berbeda dengan saya. Jelas saja pemikiran kita akan berbeda. Lantas kenapa saya harus terus mengikuti kebenaran-kebenaran yang diucapkan Ibu saya?
     Saya menyayanginya, lebih dari apapun. Bahkan saya rela tidak pacaran demi menjaga keperawanan saya sendiri, keperawanan yang benar-benar suci, yang tidak hanya soal selaput dara. Tapi, ketika saya keras berjuang, haruskah saya diluluhkan lagi? Haruskah saya ikut-ikutan kolot dengan pemikiran tentang semua hal tabu dan saru itu tak layak diperbincangkan? Saya memang anak kalian, namun ada saatnya saya harus terlepas dari ejaan kalian. Saya harus menemukan diri saya sendiri. Bukan menjadi saya yang dibayang-bayangi karakter kalian. Jelas saya dan kalian sangatlah beda. Otak kami berbeda. Saya memang sedang jatuh ketika kamu mengatakan kejujuranmu Bu, namun saya tidak akan berhenti. Selama saya dan karya saya masih bisa diterima umum, maka saya tidak akan berubah. Saya ya saya, tanpa embel-embel “kamu anak siapa?”.

     Komentar nampol nomor dua.

"Kenapa Suka Memfoto Kaki Dik?"





            “Kenapa suka memfoto kaki Dik?”
            Sebuah pertanyaan yang sering saya dengar ketika ada seseorang yang sengaja membuka-buka folder foto di hp saya. Ya, kenapa kaki ya? Saya punya banyak alasan untuk jawaban tersebut. Bisa jadi karena Cuma kaki saya yang terlihat bagus jika di foto, atau karena sepatu saya baru, juga karena terobsesi dengan kakinya Zooy Deschanel (desainer bertema 60an).
            Tapi sesungguhnya bukan itu jawaban yang pas. Saya punya jawaban non logis. Jawaban yang saya sendiri kurang tahu betul, apakah sifatnya normal atau tidak. Jadi begini, saya selalu merasa bahwa segala hal yang turun ke bumi, tumbuh dibumi dan muncul dari bumi, adalah hal yang tidak pernah sia-sia dan selalu memiliki arti.
            Sama halnya dengan kaki. Mereka ada di bawah tubuh kita. Menopang tulang tengkorak hingga selangkangan. Ketika saya berdiri, mengiinjak bumi, berada diatas tanah, rumput, pasir, aspal, ubin dan tangga sekalipun. Saya merasa aneh, ajaib, seperti memiliki seperempat dari dunia. Menginjak ciptaan Tuhan lainnya. Rasanya…..ah saya sudah bilang ini non logis.


            Saya merasa tubuh saya akan limbung jika kaki tidak menyentuh sesuatu. Saya merasa ingin terus menari jika melihat kaki saya menyentuh ubin pendhapa. Rasanya ada keunikan tersendiri.
           

            Andai kau sadar betapa sunyi langkah yang kau buat
            Tak kan perih jari-jarimu melangkah begitu cepat.
            Demi mengukir jarak pada punggung-punggung kita.
            Karena aku disini, berusaha keras agar jejakmu tak tehapus lagi.
            Sebenarnya karena saya menyukai seseorang yang berjalan kaki teramat cepat dan berpuluh-puluh kilo meter dia tempuh sendiri. Sadarkah ia, saya sangat ingin menemani langkah kakinya. Tidak muluk berjajar dengan kakinya, dibelakangnyapun saya terima.

"Jatuh Cinta itu Seperti Apa?"





“Ketika saya sudah menyukai seseorang, entah perasaan suka yang diibaratkan apa. Saya tidak berani untuk memilikinya.”
            Jatuh cinta itu seperti apa? Apakah mudah? Bagaimana cara kita tahu kalau kita jatuh cinta? Jatuh cinta itu letaknya dimana? Masih terlalu banyak pertanyaan yang menggelayut di otak saya. Saya tidak pernah paham seperti apa teori dan praktek jatuh cinta yang benar. Saya tidak mengerti disebelah mana kejujuran jatuh cinta itu datang. Saya terlalu gamang untuk menerka apakah saya jatuh cinta atau tidak.
            Kata teman saya jatuh cinta itu jika kita nyaman dengan orang yang kita suka, jika kita dengan tulus memberikan segalanya tanpa ia harus menyuruh. Belakangan ada juga yang bilang jatuh cinta itu muncul lewat pandangan 8 detik. Berarti orang ini mengedepankan fisik, jelas saya tidak akan masuk kedalam pandangan 8 detik. Tidak, saya tidak membahas tentang jatuh cinta pada Tuhan atau pada orang tua, saya membahas soal hati, hati yang katanya harus diisi oleh sosok lawan jenis yang dinamakan jodoh kita. Jodoh? Entahlah. Lagi-lagi saya wajib bilang ini gamang.
            Kakak tingkat saya berasumsi bahwa jatuh cinta adalah tatanan cosmic didalam hidup kita, dimana rasa yang merajai segalanya. Ah saya makin tidak ngerti. Omongan mereka terlalu tinggi. Lalu jatuh cinta itu yang seperti apa? Sedangkan saya cukup nyaman berada disisi orang yang saya suka, tidak tahu juga suka yang macam apa, saya rela memberi semua dengan tulus, buku saya yang terbit on-line itu ya tentang seseorang yang sudah 2 tahun saya kagumi dikampus. Kakak tingkat saya yang belum pernah pacaran selama ia kuliah, kakak kelas yang membacakan puisi Chairil Anwar dengan ajaib hingga rasa malas saya diruang tunggu peserta lomba nulis menjadi hilang total. Saya mengaguminya, sangat, bahkan saya sampai tidak berani menatap matanya, menyapanya, mengajaknya bicara, sedangkan dia santai membuat saya nyaris terjun dari lantai 3 kampus. Saya selalu menguntitnya dari belakang kala dia jalan kaki kemanapun ia pergi. Dia idealis, anak seniman yang memilih jalan kaki, naik bus, makan nasi di warteg dengan krupuk, nonton wayang sendiri, beli buku sendiri. Aduh, hati saya rasanya sakit jika harus melanjutkan seperti apa kakak tingkat saya ini. Orang lain tidak pernah memandang dia secara utuh, mereka memandangnya sebagai mahasiswa payah, penyendiri, keras kepala dan apalah. Tapi bagi saya dia salah satu sosok Gie. Gie dikampus seni. Dan entah apa namanya, apakah ini jatuh cinta atau bukan, saya tidak tahu!
            Masa lalu dan masa depan mungkin berhubungan. Saya punya 1 sosok masa lalu yang selalu membuat saya terkekeh sendiri jika mengingat ulahnya. Namanya Saputra Gautama. Dia menyuruh saya memanggilnya Uta, iya nama saya Udi. Dia mkhluk SD yang pertama kali mengatakan saya ini unik, manis dan cantik. Jujur, saya menyukainya sejak SD. Kita perpisah disini. Di masa sekarang dan belum sempat berpamitan. Kelas 6 SD dan saya kelas 5 SD, dia mengatakan dia menyukai saya, pengen jadi pacar saya, tapikan kita masih SD, tidak mungkin pacaran. Dan sampai sekarang saya menyesal sudah membiarkannya pergi begitu saja. Umur saya sudah 20 dan masih mengingatnya. Saya ingat bagaimana dia mengajak saya berjalan kaki, main basket, menulis namanya segedhe karpet didepan jalan rumah saya. Dia menulis “Uta Udi”. Pokonya saya akan nangis lagi kalau mengingat ini. Dia adalah Tintin di dunia nyata saya, mengajak saya berpetualang naik sepeda ontel. Melewati sawah, tebing, lalu kebun. Saya ini pas SD anak Pramuka, sering diajak kakak kandung kemah di sekolah-sekolah lain, sering diajak heking juga, jalan kaki 5-10 km sudah biasa, tapi saya belum boleh naik gunung. Saya juga tidak tahu ini perasaan apa.
            Yang lainnya hanya orang-orang, laki-laki berkarakter nyambung dengan saya. Yang sama-sama suka bau menyan, makan kembang, suka nonton wayang orang, suka memunculkan ide-ide seni yang gila. Yah, Cuma sebatas kita melakukan apa-apa berdua. Baca buku, nonton konser music balada dan folk. Astaga! Saya sudah mulai gila, disaat anak-anak lain sudah menemukan semacam cintanya, saya ngerti cinta aja belum!
            Tapi ini bukan karena saya belum pernah pacaran. Saya pernah pacaran, pernah kurang ajar pergi kepantai berdua, pernah debat sama pacar sampai dia ngalah karena saya pendebat sadis. Tapi saya belum pernah ciuman, dicium pipi saja saya langsung cuci muka pakai sabun dan emosi sendiri. Saya bukan jomblo yang ngenes nggak laku, justru saya terlalu laku, tapi belum ada yang membuat saya yakin apakah saya jatuh cinta atau tidak. Akhirnya saya putus dengan pacar-pacar saya. Alasannya sama “Karena saya nggak kamu anggap sebagai pacar”, sedangkan saya sendiri tidak tahu pacaran itu seperti apa. Saya Cuma mau diajak ketawa bareng, sedih bareng, baca buku bareng, berkarya bareng, bersemangat bareng. Saya nggak butuh makan mahal-mahal, gaul atau apalah yang anak-anak remaja sekarang lakukan. Pacar-pacar saya bilang “kamu terlalu tinggi, rumit, penuh kejutan tapi…..jangan pergi dari saya, saya yang salah tidak bisa mengerti kamu.” Tidak! Saya yang salah, saya yang bukan untuk kamu, kalian. Saya entah untuk siapa.
            Atau jangan-jangan saya ini jatuh cinta sama Soe hok Gie? Mahasiswa idealis yang mati di gunung, mahasiswa penulis artikel Koran yang dikejar-kejar pemerintah orde lama dan orde baru sampai pacar-pacarnya tidak berani lagi pacaran sama Gie. Saya bahkan pengen hidup di jamannya Gie, jadi pacarnya, naik gunung bareng, kepantai bareng, ngobrol tentang buku bareng, diskusi seni bareng, makan di warteg bareng, nulis bareng, ibadah….Gie khatolik saya Islam. Kalau saya hidup dijamannya, sampai matipun, sampai pemerintah menyandera saya, saya tetap akan mendampinginya. Gie bilang ia tidak percaya cinta, ia jatuh cinta tapi tidak berani menyentuh. Ia menghormati perempuan pujaannya sampai berkata sukapun tak berani. Seperti itukah jatuh cinta yang benar? Lalu saya jatuh cinta sama siapa? Dzawin? Anak pesantren titisan Gie? Itu makin tidak masuk akal!
            Jangan-jangan saya ditakdirkan seperti Ayu Utami yang tidak menikah, tidak jatuh cinta tapi punya pacar, punya keluarga tapi tidak punya suami, Cuma punya idealis dan buku-buku. Atau malah macam Nicholas Saputra yang umur 30an belum punya pacar? Tapikan saya anak kedua, perempuan, Islam, punya orang tua, dan punya cita-cita. Mau ta’aruf? Saya bukan Aisyah! Saya mau membuktikan kalau orang “liar” macam saya juga bisa tetap perawan di usia remajanya, meskipun tanpa jilbab, saya bisa menjaga diri kok, saya bisa berantem sama laki-laki, badan saya kecil itu tidak akan mengundang nafsu, saya juga tidak pernah dandan, tapi orang gila macam caleg gagal bisa saja memperkosa saya -___-. Tunggu! Ini tulisan yang kelewat hina!
            Berhenti! Saya masih tetap memegang prinsip “MEMUTUSKAN BERSAMA ORANG LAIN ITU BUKAN KARENA KITA TAKUT KESEPIAN, TAKUT SENDIRIAN, TAPI KARENA MEMANG DIRI KITA TERCERMIN PADA DIRI SESEORANG ITU.” Saya belum merasa kesepian.
            Kalau ditanya saya mau laki-laki yang seperti apa, saya punya 4 kriteria khusus.
1.      Tenang ( orang tenang adalah orang yang beragama dan patuh pada Tuhannya )
2.      Realistis ( orang realistis akan tahu bagaimana cara meraih mimpinya dan bangkit lagi ketika ia terjatuh )
3.      Cerdas ( orang cerdas sudah tentu idealis, berprinsip, konsisten, mengerti keadaan, peka dan nyambung )
4.      Mapan ( kata yang sudah jelas)
Sudah, muluk-mulukkah? Saya pikir memang. Sayakan manusia, bukan anak Tuhan. Baiklah, kembali mendengarkan alunan lagu-lagu folk dari Aurette, frau, tiga pagi, sore, payung teduh, dan lagu-lagu aneh lainnya, dengan aroma menyan dipojok dipan. Dengan pandangan bahwa planet Saturnus adalah planet terindah setelah Pluto. Selamat malam, perempuan mandiri.   
           
 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates