“Ketika
saya sudah menyukai seseorang, entah perasaan suka yang diibaratkan apa. Saya
tidak berani untuk memilikinya.”
Jatuh cinta itu seperti apa? Apakah
mudah? Bagaimana cara kita tahu kalau kita jatuh cinta? Jatuh cinta itu
letaknya dimana? Masih terlalu banyak pertanyaan yang menggelayut di otak saya.
Saya tidak pernah paham seperti apa teori dan praktek jatuh cinta yang benar.
Saya tidak mengerti disebelah mana kejujuran jatuh cinta itu datang. Saya
terlalu gamang untuk menerka apakah saya jatuh cinta atau tidak.
Kata teman saya jatuh cinta itu jika
kita nyaman dengan orang yang kita suka, jika kita dengan tulus memberikan
segalanya tanpa ia harus menyuruh. Belakangan ada juga yang bilang jatuh cinta
itu muncul lewat pandangan 8 detik. Berarti orang ini mengedepankan fisik, jelas
saya tidak akan masuk kedalam pandangan 8 detik. Tidak, saya tidak membahas
tentang jatuh cinta pada Tuhan atau pada orang tua, saya membahas soal hati,
hati yang katanya harus diisi oleh sosok lawan jenis yang dinamakan jodoh kita.
Jodoh? Entahlah. Lagi-lagi saya wajib bilang ini gamang.
Kakak tingkat saya berasumsi bahwa
jatuh cinta adalah tatanan cosmic didalam hidup kita, dimana rasa yang merajai
segalanya. Ah saya makin tidak ngerti. Omongan mereka terlalu tinggi. Lalu
jatuh cinta itu yang seperti apa? Sedangkan saya cukup nyaman berada disisi
orang yang saya suka, tidak tahu juga suka yang macam apa, saya rela memberi
semua dengan tulus, buku saya yang terbit on-line itu ya tentang seseorang yang
sudah 2 tahun saya kagumi dikampus. Kakak tingkat saya yang belum pernah
pacaran selama ia kuliah, kakak kelas yang membacakan puisi Chairil Anwar
dengan ajaib hingga rasa malas saya diruang tunggu peserta lomba nulis menjadi
hilang total. Saya mengaguminya, sangat, bahkan saya sampai tidak berani
menatap matanya, menyapanya, mengajaknya bicara, sedangkan dia santai membuat
saya nyaris terjun dari lantai 3 kampus. Saya selalu menguntitnya dari belakang
kala dia jalan kaki kemanapun ia pergi. Dia idealis, anak seniman yang memilih
jalan kaki, naik bus, makan nasi di warteg dengan krupuk, nonton wayang
sendiri, beli buku sendiri. Aduh, hati saya rasanya sakit jika harus
melanjutkan seperti apa kakak tingkat saya ini. Orang lain tidak pernah
memandang dia secara utuh, mereka memandangnya sebagai mahasiswa payah,
penyendiri, keras kepala dan apalah. Tapi bagi saya dia salah satu sosok Gie.
Gie dikampus seni. Dan entah apa namanya, apakah ini jatuh cinta atau bukan,
saya tidak tahu!
Masa lalu dan masa depan mungkin
berhubungan. Saya punya 1 sosok masa lalu yang selalu membuat saya terkekeh
sendiri jika mengingat ulahnya. Namanya Saputra Gautama. Dia menyuruh saya
memanggilnya Uta, iya nama saya Udi. Dia mkhluk SD yang pertama kali mengatakan
saya ini unik, manis dan cantik. Jujur, saya menyukainya sejak SD. Kita
perpisah disini. Di masa sekarang dan belum sempat berpamitan. Kelas 6 SD dan
saya kelas 5 SD, dia mengatakan dia menyukai saya, pengen jadi pacar saya,
tapikan kita masih SD, tidak mungkin pacaran. Dan sampai sekarang saya menyesal
sudah membiarkannya pergi begitu saja. Umur saya sudah 20 dan masih
mengingatnya. Saya ingat bagaimana dia mengajak saya berjalan kaki, main
basket, menulis namanya segedhe karpet didepan jalan rumah saya. Dia menulis
“Uta Udi”. Pokonya saya akan nangis lagi kalau mengingat ini. Dia adalah Tintin
di dunia nyata saya, mengajak saya berpetualang naik sepeda ontel. Melewati
sawah, tebing, lalu kebun. Saya ini pas SD anak Pramuka, sering diajak kakak
kandung kemah di sekolah-sekolah lain, sering diajak heking juga, jalan kaki 5-10
km sudah biasa, tapi saya belum boleh naik gunung. Saya juga tidak tahu ini
perasaan apa.
Yang lainnya hanya orang-orang,
laki-laki berkarakter nyambung dengan saya. Yang sama-sama suka bau menyan,
makan kembang, suka nonton wayang orang, suka memunculkan ide-ide seni yang
gila. Yah, Cuma sebatas kita melakukan apa-apa berdua. Baca buku, nonton konser
music balada dan folk. Astaga! Saya sudah mulai gila, disaat anak-anak lain
sudah menemukan semacam cintanya, saya ngerti cinta aja belum!
Tapi ini bukan karena saya belum
pernah pacaran. Saya pernah pacaran, pernah kurang ajar pergi kepantai berdua,
pernah debat sama pacar sampai dia ngalah karena saya pendebat sadis. Tapi saya
belum pernah ciuman, dicium pipi saja saya langsung cuci muka pakai sabun dan
emosi sendiri. Saya bukan jomblo yang ngenes nggak laku, justru saya terlalu
laku, tapi belum ada yang membuat saya yakin apakah saya jatuh cinta atau
tidak. Akhirnya saya putus dengan pacar-pacar saya. Alasannya sama “Karena saya
nggak kamu anggap sebagai pacar”, sedangkan saya sendiri tidak tahu pacaran itu
seperti apa. Saya Cuma mau diajak ketawa bareng, sedih bareng, baca buku
bareng, berkarya bareng, bersemangat bareng. Saya nggak butuh makan
mahal-mahal, gaul atau apalah yang anak-anak remaja sekarang lakukan. Pacar-pacar
saya bilang “kamu terlalu tinggi, rumit, penuh kejutan tapi…..jangan pergi dari
saya, saya yang salah tidak bisa mengerti kamu.” Tidak! Saya yang salah, saya
yang bukan untuk kamu, kalian. Saya entah untuk siapa.
Atau jangan-jangan saya ini jatuh
cinta sama Soe hok Gie? Mahasiswa idealis yang mati di gunung, mahasiswa
penulis artikel Koran yang dikejar-kejar pemerintah orde lama dan orde baru sampai
pacar-pacarnya tidak berani lagi pacaran sama Gie. Saya bahkan pengen hidup di
jamannya Gie, jadi pacarnya, naik gunung bareng, kepantai bareng, ngobrol
tentang buku bareng, diskusi seni bareng, makan di warteg bareng, nulis bareng,
ibadah….Gie khatolik saya Islam. Kalau saya hidup dijamannya, sampai matipun,
sampai pemerintah menyandera saya, saya tetap akan mendampinginya. Gie bilang
ia tidak percaya cinta, ia jatuh cinta tapi tidak berani menyentuh. Ia
menghormati perempuan pujaannya sampai berkata sukapun tak berani. Seperti
itukah jatuh cinta yang benar? Lalu saya jatuh cinta sama siapa? Dzawin? Anak
pesantren titisan Gie? Itu makin tidak masuk akal!
Jangan-jangan saya ditakdirkan
seperti Ayu Utami yang tidak menikah, tidak jatuh cinta tapi punya pacar, punya
keluarga tapi tidak punya suami, Cuma punya idealis dan buku-buku. Atau malah
macam Nicholas Saputra yang umur 30an belum punya pacar? Tapikan saya anak
kedua, perempuan, Islam, punya orang tua, dan punya cita-cita. Mau ta’aruf?
Saya bukan Aisyah! Saya mau membuktikan kalau orang “liar” macam saya juga bisa
tetap perawan di usia remajanya, meskipun tanpa jilbab, saya bisa menjaga diri
kok, saya bisa berantem sama laki-laki, badan saya kecil itu tidak akan
mengundang nafsu, saya juga tidak pernah dandan, tapi orang gila macam caleg
gagal bisa saja memperkosa saya -___-. Tunggu! Ini tulisan yang kelewat hina!
Berhenti! Saya masih tetap memegang
prinsip “MEMUTUSKAN BERSAMA ORANG LAIN ITU BUKAN KARENA KITA TAKUT KESEPIAN,
TAKUT SENDIRIAN, TAPI KARENA MEMANG DIRI KITA TERCERMIN PADA DIRI SESEORANG ITU.”
Saya belum merasa kesepian.
Kalau ditanya saya mau laki-laki
yang seperti apa, saya punya 4 kriteria khusus.
1. Tenang
( orang tenang adalah orang yang beragama dan patuh pada Tuhannya )
2. Realistis
( orang realistis akan tahu bagaimana cara meraih mimpinya dan bangkit lagi
ketika ia terjatuh )
3. Cerdas
( orang cerdas sudah tentu idealis, berprinsip, konsisten, mengerti keadaan,
peka dan nyambung )
4. Mapan
( kata yang sudah jelas)
Sudah,
muluk-mulukkah? Saya pikir memang. Sayakan manusia, bukan anak Tuhan. Baiklah,
kembali mendengarkan alunan lagu-lagu folk dari Aurette, frau, tiga pagi, sore,
payung teduh, dan lagu-lagu aneh lainnya, dengan aroma menyan dipojok dipan. Dengan
pandangan bahwa planet Saturnus adalah planet terindah setelah Pluto. Selamat
malam, perempuan mandiri.