Pages

Minggu, 18 Mei 2014

"Media Masa ke-2"



Akhirnya, setelah saya merombak habis pemikiran saya, meruwatnya sampai hamper muntah tiap malam minggu. Minggu 11 Mei lalu adalah minggu perdana bagi saya. Minggu perdana untuk dapat membaca cerpen saya yang dimuat di salah satu surat kabar, local. Meskipun local, tapi usaha saya benar-benar gila-gilaan.
     Saya mencoba peka dengan sekitar saya. Menyaring semua permasalahan yang sekelebat mondar-mandir di sekitar saya, di telinga saya dan di mata saya. Saya mencoba mencari seperti apakah sebenarnya kemampuan saya ini. Seberapa kuatkah saya menempuh ini semua. Meskipun saya tidak pernah merasakan permasalahan-permasalahan ini. Saya mencoba untuk berpikir secara “Liar” namun tetap teratur.
     Berhasil, berkali-kali saya mengirim tulisan ke surat kabar, sampai habis lelah saya. Tak kunjung ada nama saya yang terselip disana. Tak satupun. Cerpen-cerpen yang saya kira sudah saya tulis dengan rapi, cerita yang masuk akal dan bahasa yang mudah dimengerti. Nyatanya cerpen-cerpen itu gugur. Saya putus asa, sangat.
     Hingga saya mulai bangkit lagi. Mengolah lagi, berproses, seperti menari. Didalam seni tari, tubuh kita adalah medium utama, jangan dimanjakan, jangan tergiur dengan gerakan-gerakan manis saja. Tapi ungkapkan kesan dan suasana didalamnya, jadilah “liar”, kata dosen saya. Sayapun menggunakan metode itu kedalam tulisan saya. Jadilah beberapa tulisan yang katanya “Gila”. Satu judul tulisan saya kirim di Solopos. Lara Nala.
     Dua minggu kemudian, terbit. Minggu yang cerah dengan tulisan yang katanya “gila”. Lara Nala masuk Koran SOLOPOS 11 Mei 2014. Jelas saya heboh. Teman-teman saya mulai mau membacanya. Kritik dan saran yang sangat membangun dari mereka. Beberapa memuji, beberapa suka tapi tak mengerti, beberapa menasehati, beberapa berkata “Asu! Iso kowe Di gae ngene iki.”
     Saya bersemangat. Makin terharu karena akhirnya ada juga yang membuatkan saya ilustrasi dari cerpen yang saya tulis. Saya bahagia, bahkan ingin sekali mengucapka terimakasih sebanyak-banyaknya kepada sang illustrator Koran SOLOPOS.
     Lara Nala adalah bentuk protes. Bentuk protes seorang perempuan polos. Dalam hidupnya yang rumit, miskin dan bodoh, ia harus menghidupi dirinya, hatinya dan pikirannya. Tapi protes saja tidak cukup, kodrat, takdir dan pemikiran Tuhan lebih perkasa dari apapun. Nala menjadi Lara, membawa lara entah kemana. Ia hanya ingin tenang, damai dan hidup normal. Namun dunia seakan tak perduli. Dunia membalikan pemikirannya.
     Tulisan saya dan juga Ibu.
     Saya punya keluarga. Bukan keturunan seniman ataupun sastrawan. Keluarga adalah kumpulan orang terjujur dan menghargai kita. Ibu saya, saya menulis untuk dia. Untuk segenap keinginannya. Tak cukup. Ketika SMA, puisi saya dimuat juga di surat kabar, waktu SMA masih cenderung ke ABG-ABGan. Dan sekarang, saya mendapat tamparan mulus dari Ibu saya. Ia telah membaca cerpen saya. Kemudian ia berkata.
     “Jelek, nulis cerita kok kaya gini. Saru.” Katanya.
     “Lantas saya harus menulis tentang kancil dan buaya terus?” kata saya, nyaris menahan kejolak putus asa didalam dada. Nyaris terluka, parah.
     Ibu saya diam, baru itulah koment yang mampu membuat saya merasa tidak bisa apa-apa. Sebagai anak mereka, haruskah saya tetap, selalu mengikuti pemikiran mereka? Mereka melalui masa remaja dalam generasi yang berbeda dengan saya. Jelas saja pemikiran kita akan berbeda. Lantas kenapa saya harus terus mengikuti kebenaran-kebenaran yang diucapkan Ibu saya?
     Saya menyayanginya, lebih dari apapun. Bahkan saya rela tidak pacaran demi menjaga keperawanan saya sendiri, keperawanan yang benar-benar suci, yang tidak hanya soal selaput dara. Tapi, ketika saya keras berjuang, haruskah saya diluluhkan lagi? Haruskah saya ikut-ikutan kolot dengan pemikiran tentang semua hal tabu dan saru itu tak layak diperbincangkan? Saya memang anak kalian, namun ada saatnya saya harus terlepas dari ejaan kalian. Saya harus menemukan diri saya sendiri. Bukan menjadi saya yang dibayang-bayangi karakter kalian. Jelas saya dan kalian sangatlah beda. Otak kami berbeda. Saya memang sedang jatuh ketika kamu mengatakan kejujuranmu Bu, namun saya tidak akan berhenti. Selama saya dan karya saya masih bisa diterima umum, maka saya tidak akan berubah. Saya ya saya, tanpa embel-embel “kamu anak siapa?”.

     Komentar nampol nomor dua.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates