Akhirnya, setelah saya merombak habis pemikiran saya, meruwatnya
sampai hamper muntah tiap malam minggu. Minggu 11 Mei lalu adalah minggu
perdana bagi saya. Minggu perdana untuk dapat membaca cerpen saya yang dimuat
di salah satu surat kabar, local. Meskipun local, tapi usaha saya benar-benar
gila-gilaan.
Saya mencoba peka dengan
sekitar saya. Menyaring semua permasalahan yang sekelebat mondar-mandir di
sekitar saya, di telinga saya dan di mata saya. Saya mencoba mencari seperti
apakah sebenarnya kemampuan saya ini. Seberapa kuatkah saya menempuh ini semua.
Meskipun saya tidak pernah merasakan permasalahan-permasalahan ini. Saya
mencoba untuk berpikir secara “Liar” namun tetap teratur.
Berhasil, berkali-kali saya
mengirim tulisan ke surat kabar, sampai habis lelah saya. Tak kunjung ada nama
saya yang terselip disana. Tak satupun. Cerpen-cerpen yang saya kira sudah saya
tulis dengan rapi, cerita yang masuk akal dan bahasa yang mudah dimengerti.
Nyatanya cerpen-cerpen itu gugur. Saya putus asa, sangat.
Hingga saya mulai bangkit
lagi. Mengolah lagi, berproses, seperti menari. Didalam seni tari, tubuh kita
adalah medium utama, jangan dimanjakan, jangan tergiur dengan gerakan-gerakan
manis saja. Tapi ungkapkan kesan dan suasana didalamnya, jadilah “liar”, kata
dosen saya. Sayapun menggunakan metode itu kedalam tulisan saya. Jadilah
beberapa tulisan yang katanya “Gila”. Satu judul tulisan saya kirim di Solopos.
Lara Nala.
Dua minggu kemudian,
terbit. Minggu yang cerah dengan tulisan yang katanya “gila”. Lara Nala masuk
Koran SOLOPOS 11 Mei 2014. Jelas saya heboh. Teman-teman saya mulai mau
membacanya. Kritik dan saran yang sangat membangun dari mereka. Beberapa
memuji, beberapa suka tapi tak mengerti, beberapa menasehati, beberapa berkata
“Asu! Iso kowe Di gae ngene iki.”
Saya bersemangat. Makin
terharu karena akhirnya ada juga yang membuatkan saya ilustrasi dari cerpen
yang saya tulis. Saya bahagia, bahkan ingin sekali mengucapka terimakasih
sebanyak-banyaknya kepada sang illustrator Koran SOLOPOS.
Lara Nala adalah bentuk
protes. Bentuk protes seorang perempuan polos. Dalam hidupnya yang rumit,
miskin dan bodoh, ia harus menghidupi dirinya, hatinya dan pikirannya. Tapi
protes saja tidak cukup, kodrat, takdir dan pemikiran Tuhan lebih perkasa dari
apapun. Nala menjadi Lara, membawa lara entah kemana. Ia hanya ingin tenang,
damai dan hidup normal. Namun dunia seakan tak perduli. Dunia membalikan
pemikirannya.
Tulisan saya dan juga Ibu.
Saya punya keluarga. Bukan
keturunan seniman ataupun sastrawan. Keluarga adalah kumpulan orang terjujur
dan menghargai kita. Ibu saya, saya menulis untuk dia. Untuk segenap
keinginannya. Tak cukup. Ketika SMA, puisi saya dimuat juga di surat kabar,
waktu SMA masih cenderung ke ABG-ABGan. Dan sekarang, saya mendapat tamparan mulus
dari Ibu saya. Ia telah membaca cerpen saya. Kemudian ia berkata.
“Jelek, nulis cerita kok
kaya gini. Saru.” Katanya.
“Lantas saya harus menulis
tentang kancil dan buaya terus?” kata saya, nyaris menahan kejolak putus asa
didalam dada. Nyaris terluka, parah.
Ibu saya diam, baru itulah
koment yang mampu membuat saya merasa tidak bisa apa-apa. Sebagai anak mereka,
haruskah saya tetap, selalu mengikuti pemikiran mereka? Mereka melalui masa
remaja dalam generasi yang berbeda dengan saya. Jelas saja pemikiran kita akan
berbeda. Lantas kenapa saya harus terus mengikuti kebenaran-kebenaran yang
diucapkan Ibu saya?
Saya menyayanginya, lebih
dari apapun. Bahkan saya rela tidak pacaran demi menjaga keperawanan saya
sendiri, keperawanan yang benar-benar suci, yang tidak hanya soal selaput dara.
Tapi, ketika saya keras berjuang, haruskah saya diluluhkan lagi? Haruskah saya
ikut-ikutan kolot dengan pemikiran tentang semua hal tabu dan saru itu tak
layak diperbincangkan? Saya memang anak kalian, namun ada saatnya saya harus
terlepas dari ejaan kalian. Saya harus menemukan diri saya sendiri. Bukan
menjadi saya yang dibayang-bayangi karakter kalian. Jelas saya dan kalian
sangatlah beda. Otak kami berbeda. Saya memang sedang jatuh ketika kamu mengatakan
kejujuranmu Bu, namun saya tidak akan berhenti. Selama saya dan karya saya
masih bisa diterima umum, maka saya tidak akan berubah. Saya ya saya, tanpa
embel-embel “kamu anak siapa?”.
Komentar nampol nomor dua.


0 komentar:
Posting Komentar