Ini adalah buku pertama saya yang
diterbitkan lewat selfpublish NulisBuku.com. awalnya saya sangat malas untuk
menyelesaikan buku ini, namun saya bertekad, apapun hasilnya saya harus tetap
lakukan ini. Entah apa yang mendorong saya untuk menyegerakan buku ini, tapi
bagi saya ini adalah hal terpenting dalam hidup saya. Buku 165 halaman ini
berisi tentang 12 cerpen yang saya tulis sejak SMA. Secara tidak sengaja
ternyata buku ini sudah bertema sendiri, saya mmenyebut temanya dengan “Jatuh
Cinta Absurd”, dimana seseorang merasakan jatuh cinta yang tidak biasa, kepada
mereka yang tidak biasa pula. Sebagian besar cerita-cerita didalamnya berakhir
sedih, saya jadi sadar, mungkin ketika menulisnya saya memang sedang terjangkit
virus galau yang sebenarnya mati-matian saya basmi, tapi apa daya, tangan
tetaplah tangan yang mau menulis ketika ia sedang ingin menulis.
Saya tidak terpaku pada
aliran-aliran apapun, saya membebaskan tulisan saya, terserah kemana kata
membawanya tumbuh, bagi saya menuangkan mereka lebih baik dari pada harus
berpusing-pusing ria menentukan aliran apa mereka ini, sastra, kontemporer,
atau jenis-jenis lainnya. Bagi saya semua yang terlahir dari satu induk itu
memiliki karakter yang berbeda, bisa saja 1 ibu melahirkan 5 anak yang berbeda
karakter, seperti itu jugalah sebuah tulisan. Menyekat mereka hanya akan
membuat mereka tertekan, maka saya memilih untuk membebaskan mereka dengan
karakternya masing-masing. Bahkan ada juga tulisan saya yang berkarakter
tulisan anak SD, lugu, polos dan sederhana.
Kata seorang teman “Kesan pertama
dalam sebuah tulisan itu akan membekas, maka berikan yang terbaik untuk tulisan
pertamamu.” Tapi sungguh, saya adalah orang yang sangat tidak setuju dengan
pendapat itu. Sama halnya dengan bayi yang baru lahir, mereka perlu dibimbing
terlebih dahulu sebelum akhirnya menjadi orang dewasa yang sukses. Tulisan juga
begitu, mungkin memang buku pertama saya ini payah dan tidak berbobot atau
malah tidak layak dianggap sebagai tulisan, maka mungkin tidak akan ada lagi
yang berminat dibuku kedua saya nanti. Tetapi bukankah ada yang namanya
kesempatan? Kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik lagi. Begitulah
saya, sedang belajar dengan buku pertama saya, ketika ada masukan saya akan
sangat bersemangat mendengarkan, walau sesakit apapun. Dan dibuku kedua yang
entah kapan akan mulai saya tulis, saya akan memperbaiki semuanya, agar
tulisan-tulisan saya makin tumbuh menjadi lebih enak dibaca.
Tentang #PesawatKertas
Pesawat Kertas adalah tumpangan
untuk menuju keharapan kita yang sudah terlalu lama terpendam. Dengannya kita
mampu menerjang angin, dengannya kita mampu sampai ditujuan kita. Melesatnya
Pesawat kertas tergantung kita yang menerbangkannya, sebagai pilot, kita harus
mencari tempat yang sesuai dengan tiupan angin. Kemudian kita tentukan kemana
ia harus berhenti, yaitu berhenti ditujuan kita.
Dibalik #PesawatKertas
Ada memory tersendiri dengan adanya
Pesawat Kertas. Tentang masa lalu yang saya cari-cari. Tentang seseorang yang
sempat menjadi bunga matahari saya, ketika usia masih berbaju merah putih.
Semoga Pesawat Kertas mengantarkan ia kepada saya.
“Ketika
saya membaca dijudul pertamanya, ternyata ceritanya bertolak belakang dengan
laguya Iwan Fals, ia menuliskan bahwa tikus lebih baik daripada manusia, bahkan
tikus dalam cerita ini tidak terima dengan teori manusia tentang tikus. Saya
benar-benar seolah mengenal tikus-tikus ini, saya kira mungkin tikus-tikus
dalam kenyataan ini berpikir sama dengan apa yang dituliskan penulisnya. Buku
ini sangat menarik untuk dibaca.” Satpam KPP Pratama Karanganyar.
“Didalam
buku ini banyak sekali kiasan-kiasan yang memang terjadi didunia nyata. Kalau
dibahasa jawa namanya sanepan. Buku ini menyenangkan untuk dibaca, karena
cerita-ceritanya sangat segar, meskipun fiktif namun seolah benar-benar terjadi
didunia nyata.” Penjual makanan didepan Kantor KPP Pratama Karangnyar.
“Saya
tidak suka membaca buku fiktif, namun buku ini ajaib, mampu membuat saya
menyukai membaca fiktif, ceritanya menarik dan menegangkan. Bahasanya juga tidak
terlalu berbelit-belit.” Murid SMA Negeri Karangpandhan.
“Bacalah
buku ini! Penulisnya cantik.” Pegawai Kejaksaan Negeri karanganyar.

