“Surga
dunia itu sederhana…
Kita
tidak perlu repot berteriak diatas kasur dan meremas-remas sprei…
Berlarilah
kepantai, rasakan pasir dan deguban ombaknya…
Jika
bisa berenang merapatlah ketepian, jangan takut butiran pasir memasuki kantung
celanamu…jangan takut tenggelam, aku ada disini, dibelakang punggungmu.” kata
Udi usai menengguk secangkir susu cokelatnya.
Surga Dunia Itu
Sederhana
Peradaban yang semakin maju tidak
lekas membuat semua tempat menjadi puluhan gedung-gedung ditengah kota. Sebuah
Desa yang terdengar jauh dan terpencil, menyimpan suatu estetika bumi
tersendiri. Kita hanya perlu menuju Kabupaten Pacitan. Pada bagian Desa Widoro
Kecamatan Donorojo, kita akan menemukan surga dunia yang tersembunyi. Untuk
menuju Desa Widoro, kalia bias lewat jalur ke Gua Gong, jalan utama
Pacitan-Solo. Sesampainya di kawasan Gua Gong, ambil arah jalan ke Kalak,
kemudian selebihnya saya lupa, silahkan bertanya pada warga setempat, akan
lebih akrab jika kita mau bertanya.
Berada pada atas bukit batu
yang terjal. Sebuah laut terbentang dengan ombak yang membiru. Puluhan hektar
kebun kelapa muda terhampar disepanjang jalan menuju laut. Kita akan melihat
warga Donorojo yang memanen kelapa muda, para warga yang ramah dan terbuka.
Mereka tidak akan membuat kalian tersesat, mereka akan menjaga kalian ketika
kalian ada disana. Belum lagi, sebelum kita melihat air laut, hamparan padang
rumput dengan gubuk-gubuk kecil terpampang didepan kita. Sebagian orang barang
kali akan merasa seperti berada di peternakan, namun tidak ada hewan apapun.
Tengoklah sebelah barat ketika senja, matahari tenggelam diarah sana.
Kita
memang akan terlalu sulit untuk turun menuju laut. Batu yang terjal dan jalanan
yang turun membuat kaki kita sedikit kerepotan. Angin yang bertiup akan membuat
badan kita yang kelelahan usai perjalanan menuju laut menjadi lebih tenang. Pasir
putihnya menyapa kita dari kejauhan. Inilah pantai Buyutan. Terdapat batu
karang yang sangat khas berdiri tegak ditengah laut. Karang itu membuat saya
melihatnya sebagai seorang laki-laki bermahkota tengah menatap birunya laut.
Konon, mitos warga setempat mengatakan bahwa Mahkota Dewa Narada terjatuh
disekitar area itu.
Pantai yang masih polos dengan karangnya yang besar
dan kokoh. Ombak yang bergulung berkejaran didepan kita. Alam menyediakan
banyak kenikmatan. Air laut yang mengalir tak pernah berhenti. Pasir yang
selalu tenggelam kedalam lautan tak kan pernah meninggalkan luka pada kaki-kaki
kita. Meluangkan pernapasan kita sejenak untuk menghirup udara pada tepian laut,
adalah kesibukan yang tepat untuk memilih pantai Buyutan. Datanglah pada angin
dipantai ini, kesegaran akan membawa kalian terjaga untuk tetap bersyukur pada
yang kuasa. Saya tidak akan banyak menulis, silahkah lihat fotonya saja.
