Pages

Senin, 20 Juni 2016

"Beberapa Puisi Untukmu Yang pernah Kuramu"



Terlukis Kepala

Jadilah lukisan yang tak akan pernah pudar.
Walau beku mulai menyerang.
Sebilah kuas akan menyangga goresan titik dikanvasnya.
Mengikat garis-garis menjadi satu kepala.

Kepala yang tengah terbungkus tembikar liat.
Dan kau tak kan pernah yakin pada apa yang terlukis dikepalanya.



Cicak di Punggung


Cicak tak pernah meminta ekornya kembali.
Ketika kau memaksa memotong dadu epigon ditubuhnya.

Cicak tak pernah menjerit sakit pada ekornya.
Ketika kau mengunyah renyah sisa pori-pori tudung kulitnya.
Cicak tak pernah pergi dan lenyap untuk tersesat mengejar ekornya.

Ketika kau duduk berdiam membelakangi dinding kamar.
Cicak tetap merayap pada tempatnya.
Memandangmu dari bidang miring disudut memar.
Hati Kita Hati

Hati kita tak pernah benar-benar saling berbicara.
Hati kita bekerja untuk menduga.

Sampaikanlah,
Aku punya hati untuk kau singgahi.
Seruang kosong yang bisa kau beri aroma dupa.
Supetak luas yang bisa kau taburi bunga kamboja.

Hati kita tak pernah benar-benar saling berbicara.
Hati kita bertugas untuk menyimpan.

Sampaikanlah.
Aku punya duri untuk kau cabuti.
Sebatang kaktus yang bisa kau bawa berlari.
Ku tempatkan kau pada udara yang tak tergayuh sepi.


CERNAK "Pensil Hitam Ditya" (sempat digunakan untuk lomba tingkat SD, dan konon juara 3)

Pensil Hitam Ditya


 oleh Udiarti

            Sejak sore tadi hujan turun terus-menerus tanpa henti. Airnya meluncur dengan deras dari langit. Mega-mega diatas sana terlihat sangat hitam karena mendung. Didalam kamar seorang anak laki-laki masih memakai seragam merah putihnya. Ia berada didalam gumpalan selimut tebal berwarna hijau tua. Ia menggigil seolah tubuhnya masuk kedalam lemari es. Ditya sudah pulang dari sekolah sejak dua jam yang lalu. Tapi seragamnya belum juga diganti karena ia masih malas untuk berganti baju.
            Ditya membuka selimut yang ia gunakan untuk menutupi badannya yang kedinginan. Ia mengambil sesuatu kedalam tas gendong warna ungu tua kesayangannya yang sudah mulai kusam. Ia mengeluarkan buku gambar ukuran A3. Membolak-balik lembar demi lembar halaman buku gambar. Satu gambar berhasil Ditya temukan. Ada buah nanas dengan warna hitam. Dibawah gambar nanas ada huruf D tertulis disana. Artinya Ditya mendapat nilai jelek. Ia tidak mendapatkan nilai A atau pun B. Ibu Ditya masuk kedalam kamar Ditya.
            “Kenapa kamu belum ganti baju Dit? Ayo ganti dulu, setelah itu kita makan ya.” Kata Ibu dengan nada lembut.
            “Iya Bu. Ditya hari ini tidak suka dengan pelajaran menggambar.” Kata Ditya dengan lemas.
            “Loh kenapa Dit? Bukannya kamu sangat suka menggambar? Bukannya cita-cita kamu adalah membuat pameran lukisan?” Ibu heran dengan Ditya, anaknya yang masih kelas empat SD tiba-tiba putus asa dengan cita-citanya.
            “Minggu depan akan ada lomba menggambar antar Kabupaten Bu. Ditya ingin ikut, tapi hari ini gambaran Ditya mendapat nilai D gara-gara Ditya mewarnai nanas dengan warna hitam.”
            “Wah, kamu jangan putus asa nak. Tapi kenapa kamu mewarnai nanas dengan warna hitam? Bukankah nanas itu warnanya kuning dan oranye?”
            Dengan nada kecewa Ditya bercerita. Ditya mewarnai nanas dengan warna hitam karena Ditya merasa suka dengan nanas berwarna hitam. Ditya merasa bahwa semua gambar tidak harus diberi warna sama dengan aslinya. Ditya juga mengatakan bahwa gurunya tidak memiliki rasa seni yang tinggi. Lantas Ibu menasehati Ditya. Ibu berkata bahwa untuk mencapai cita-cita kita tidak boleh bersifat egois dan sombong. Terutama ketika kita menghasilkan suatu karya seni. Kita harus mau mendengarkan kritik dan masukan dari orang lain. Dalam meraih cita-cita kita harus punya karakter tidak boleh putus asa dan mau menerima masukan. Ditya pun mengerti nasehat dari Ibunya. Ditya sadar bahwa ia harus tetap semangat dan mau menerima kritik dari siapa pun. Setelah itu Ditya mandi dan makan dengan keluargannya.
***
            Pagi ini Ditya akan mengikuti seleksi lomba menggambar. Ia sudah membawa segala jenis perawatan untuk menggambar, mulai dari buku gambar, pensil, pensil warna dan penghapus. Dimeja yang sudah disiapkan oleh sekolah, Ditya mulai menggambar suasana keramaian pasar. Ia menggambar dengan sungguh-sunguh. Ditengah-tengah kegiatan menggambar, salah satu teman Ditya meminjam pensil warna hitam miliknya. Ditya pun meminjamkan pensil warna hitam miliknya.
Tapi pensil hitam milik Ditya malah patah karena tidak sengaja jatuh, diinjak dan tidak bisa dipakai lagi. Teman Ditya meminta maaf atas kesalahannya. Ditya sangat kecewa dengan ketledoran Dito, temannya yang meminjam pensil warna hitam miliknya itu. Dito merasa tidak enak kepada Ditya. Sayangnya Dito tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya meminta maaf saja dan berniat akan menggantinya nanti seusai pulang sekolah.
            Ditya mulai panik karena ia hanya punya satu pensil warna hitam. Teman-temannya yang mengikuti seleksi tidak mau meminjamkan pensil warna hitam padanya. Padahal Ditya sangat membutuhkan pensil warna hitam. Ditya ingat nasehat Ibunya agar ia tidak boleh putus asa dan harus tetap semangat. Ditya pun tidak kehabisan ide, Ditya menggunakan pensil tulis untuk mendapatkan warna hitam pekat. Ia menyapukan pensil berulang-ulang kali ke gambarannya yang membutuhkan warna hitam. Waktu seleksi lomba pun sudah habis. Ditya dan teman-temannya yang lain mengumpulkan gambarannya. Dengan sedikit kecewa Ditya mengumpulkan gambarannya kepada guru yang menyeleksi.
            Sepulang sekolah Dito menghampiri Ditya. Ditya terlihat sedih karena ia merasa gambarannya kurang maksimal. “Maafkan aku ya Dit. Aku akan mengganti pensil warnamu nanti.” Katanya Dito penuh penyesalan.
            “Tidak apa-apa To, gambaranku juga sudah dikumpulkan.” Kata Ditya, ia mencoba untuk tetap berlapang dada.
            “Tapi aku merasa tidak enak, maaf ya sudah membuat kamu merasa kecewa.” Kata Dito.
            “Tidak apa-apa To, yang sudah terjadi tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang kita menunggu saja pengumuman lolos seleksi besuk pagi ya.” Ditya tersenyum kepada Dito. Senyuman Ditya membuat Dito sedikit lebih tenang. Mereka pun pulang kerumah masing-masing.
***
Tibalah waktu untuk pengumuman siapa yang akan lolos mewakili SD Negeri dua Gemantar untuk lomba menggambar tingkat Kabupaten. Ditya sudah pasrah dengan gambarannya, ia ikhlas jika memang gambarannya harus kalah. Ia tidak akan berhenti menggambar walau pun tidak mewakili lomba. Pak Guru Kolis membacakan nama pemenang seleksi lomba menggambar didalam ruang kelas empat.
“Anak-anak, yang akan mewakili sekolah kita dalam lomba menggambar adalah Ditya Aksara.” Kata Pak Guru Kolis. Seisi kelas pun bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Ditya.
Dan ternyata yang mewakili lomba adalah Ditya Aksara, Ditya melonjak kegirangan. Keputus asaan yang mampu ia lawan ternyata berbuah hasil. Ia pun tidak ingin punya dendam kepada siapapun. Ditya merasa tidak boleh marah kepada Dito yang sudah mematahkan pensil warna hitamnya. Ditya juga tidak mau marah kepada teman-teman, yang sempat tidak memberikan pinjaman pensil warna hitam kepadanya ketika seleksi lomba. Ia akan belajar menggambar lebih giat untuk persiapan lomba tingkat Kabupaten nanti dan untuk meraih cita-citanya membuat pameran lukisan.
           


Naskah Teater "Maea"

MAEA
Diadaptasi dari lagu Bilur
Oleh: Udiarti dan Indah Permatasari



Tokoh              :  1. Maea
                           2. Wira
                           3.  Ibu Maea
                           4. Lasmi
                           5. Dayu
SINOPSIS:    
              Kehancuran dan kepedihan yang dialami seorang penari yang terkenal dan tersohor dimasanya. Meski dalam ketenaran dan kejayaannya, dia harus jatuh dalam sebuah kepedihan yang begitu dalam. Keegoisan dirinya yang membawanya pada kehancuran hingga dia rapuh dan mati.......mencintai laki-laki yang menjadi pilihannya dan menikahinya adalah awal kehancurannya. Dia bersikukuh tetap menikahi seorang laki-laki yang dia cintai walau ibunya melarang keras dan tak pernah menyetujui hubungan mereka. Namun apa daya nasi telah menjadi gugur.... seorang laki-laki yang begitu dia cintai tak lain adalah suami dari temannya sendiri .... teman yang telah memendam kecemburuan dan dendam yang begitu dalam hingga berujung pada kematian. Dia membunuh maea krn dendam atas suami dan ketenaran miliknya telah direbut oleh maea.

ADEGAN 1
MAEA BERIAS DIDEPAN CERMIN, SAMBIL TERSENYUM SENANG DAN MUNCUL IBU MAEA DARI SUDUT RUANG
Ibu         :  gadisku yang rupawan......!
Maea      :  ibu......(sambil menoleh kaget)
Ibu         :  melihatmu seperti ini, ibu seperti melihat diriku yang dulu.....
Maea      :  apa ibu merindukannya?
Ibu         : ya...tentu saja ibu merindukannya. Karna inilah yang membesarkan nama ibu dan krn itu lah ibu bisa jadi seperti sekarang ini.....
Maea      : ibu tenang saja maea akan selalu membuat ibu bangga.....
Ibu         :  sepertinya kau begitu senang hari ini maea?
Maea      : (tersenyum sipu malu), seperti yang ibu lihatt...
Ibu         : kemana saja kau semalam maea?, sepertinya kau tak pulang ... kau tak ada dikamarmu.....
Maea      :  aku bersama wira (masih sambil bercermin dengan riang)
Ibu         : Apa? Bersama wira? Bermalam, dan berdua-duaan saja? (kaget dan terlihat marah)
Maea      :  iya....
Ibu         : berdua-duaan saja seperti suami istri! Pantaskah perbuatanmu itu maea?”
Maea      : kenapa bu?....aku mencintainya, dan aku...
Ibu         : hah.....cinta? itu yang kau sebut dengan cinta?. Cinta tak akan membuat hidupmu bahagia maea. Tidak sepantasnya kau memilih laki-laki semacam itu.
Maea      : Kenapa ibu bilang demikian? Kenapa ibu bicara seolah-olah ibu mengenal wira lebih dari pada aku?
Ibu         : firasat seorag ibu tak pernah salah maea!
Maea      : apa yang ibu tau? Ibu tak berhak atas diri dan hidupku....aku memang anakmu, kaulah yang melahirkanku dan merawatku hingga aku sedewasa ini. Tapi sungguh bu, kau tidak harus mencampuri urusan percintaanku. (maea berlari pergi keluar meninggalkan ibunya begtu saja)
Ibu         : maea....mau kemana kau?, maea.....? dengarkan Ibu dulu nak. Benarkah yang kau lakukan itu maea? Maea!
BLACK OUT.....
LAMPU FIT IN
ADEGAN 2
MAEA DAN DAYU USAI PENTAS. DIATAS PANGGUNG YANG DISETTING SEDEMIKIAN RUPA. DAYU TENGAH SENDIRI.
Dayu : duh gusti. Lelah sekali malam ini. Meskipun malam ini adalah malam dimana bulan purnama sangat cerah dilangit sana. Dan konon jika rembulan bersinar cerah seperti ini, dengan lingkaran kuning yang sempurna. Maka Sang Dewa tengah melimpahkan segala kekuatannya dibumi pertiwi ini. Tapi tidak dengan jiwa dan ragaku, rasanya keduaanya sangat lelah. 
Lasmi : (Mendekat ke dayu kemudian berbalik)
Dayu   : Lasmi?
Lasmi  : Iya dayu?
Dayu   : Kau disana rupanya?
Lasmi  : Iya dayu, aku baru saja membeli obat untuk si Jalu. Dayu? Hanya berdiam diri disini, apa yang sedang kau lakukan dayu?
Dayu   : Aku hanya melepas lelah saja, sambil membereskan sisa pentasku tadi.
Lasmi  : Dayu? Kau sedang tidak bersama maea? Dimana dia dayu?
Dayu   : Kau bertanya tentang maea padaku? Ada urusan apa kau dengannya?
Lasmi  : Tidak, hanya tanya saja. Siapa tahu dia juga ada disini. Bersamamu.
Dayu  : Dia sedang pergi sebentar. Oh iya, bagaimana dengan latihanmu Lasmi? Apakah kau sudah bisa menguasainya?
Lasmi : Belum terlalu ku kuasai dayu. Tapi aku akan selalu berusaha untuk terus berlatih dan menguasainya. Bagaimana jika ku perlihatkan padamu dayu?
Dayu   : Baiklah lasmi, coba tunjukan padaku.
Lasmi : Lihatlah dayu (mempraktekan gerakan tari), begini dayu.
Dayu   : Rupanya gerakanmu sudah makin bagus lasmi. Darimana kau bisa melakukan gerakan-gerakan itu?
Lasmi  : Maea, maea yang mengajarkannya padaku Dayu.
Dayu   : Maea?
Lasmi  : Ya, maea. Aku tak menyangka ia mengajarkan gerakan-gerakan tari yang sangat apik padaku dayu. Dan kau tinggal melihat bagaimana aku menari. Suatu ketika aku akan bisa menari dengan bagus seperti maea. Lihatlah maea ketika ia menari dayu. Segala pori pori dikulitnya yang kuning langsat itu seperti ikut serta menari. Aku selalu merasa, ketika maea menari maka semesta ada dalam tubuhnya. Seperti ikut tumpah ruah dalam sosok perempuan desa kita itu.
Dayu   : Sepertinya, kau sangat mengagumi maea lasmi?
Lasmi : Ya dayu, aku sangat mengaguminya. Bagiku, tidak ada lagi penari yang mampu menandingi kehebatan dan keluwesannya.
Dayu   : apa kata-katamu itu tidak terlalu berlebihan lasmi?
Lasmi : Maksudmu dayu?
Dayu   : Lasmi, lasmi. Memang, sudah berapa banyak penari-penari yang kau ketahui itu? Masih banyak penari penari yang hebat diluar sana, bahkan kehebatannya bisa saja melebihi maea. Kau masih terlalu polos untuk mengatakan, bahwa maea adalah penari yang paling hebat.
Lasmi  : Ya dayu, aku memang tidak tahu penari penari hebat yang ada diluar sana. Tapi bagiku, maea adalah penari yang paling luwes di desa ini.
Dayu   : Sebaiknya, kau jangan terlalu percaya diri dengan perkataanmu itu lasmi.
Lasmi  : Apa maksudmu dayu?
Dayu   : Lasmi, segalanya yang kau lihat indah dibumi ini, tidak selamanya akan selalu menjadi indah. Suatu ketika juga akan layu.
Lasmi  : Maaf dayu, tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan ini.
Dayu   : Bahkan, seluruh jagadpun tahu. Kaktus akan selamanya menjadi kaktus. Tak akan pernah menjadi lebih indah, jika tak ada orang yang mau merawatnya. Bahkan bunga mawar, akan membusuk jika tak pernah disiram air oleh pemiliknya.
Lasmi  : Kusangkanya, kau mengatakan ini karena kau iri padanya dayu? Kaktus, meskipun ia berduri dan tajam, bagiku meskipun tanpa pot sebagai tempatnya tumbuh, ia akan selalu terlihat cantik dan menawan dengan duri-duri yang melindunginya dayu. Dibandingkan dengan bunga-bunga lainnya, kaktus juga mampu mempertahankan kecantikan duri-durinya sendiri.
Maea : (memasuki panggung dan heran melihat dayu) Lasmi? Disini kau rupanya. dayu? Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana ini? aku hanya membawa dua cangkir minuman hangat ini saja. Aku tak tahu jika kau akan datang Lasmi.
Lasmi  : Tidak apa-apa maea. Sebentar lagi aku juga akan pergi, karena sudah terlalu lama aku berada di luar. E, sepertinya aku harus pergi sekarang ya maea?
Maea   : Baiklah, hati hati dijalan lasmi.
Lasmi  : Iya dayu. (Keluar)
Maea   : Dayu? Ini, aku bawakan teh jahe untukmu. Barangkali bisa membuatmu lebih tenang.(memberikan minum pada dayu). Sepertinya malam ini kau tidak begitu maksimal dayu. Kau menari seperti orang kerasukan setan linglung. Kedua matamu kosong. Ada apa dayu? Apa yang terjadi padmu?
Dayu : tidak maea. Barangkali kau memang benar melihatku tidak maksimal. Aku hanya merasa sedikit lelah saja.
Maea : mungkin kau terlalu banyak pikiran dayu. Sekali-kali kau harus merasakan mandi disungai pengasihan. Airnya segar, barangkali kau akan merasa lebih bersemangat.
Dayu : ya.
Maea : dayu, bagaimana hubunganmu dengan sena? Kau sudah jarang menceritakannya kepadaku ya. Apa kau sudah punya kekasih yang baru?
Dayu : tidak. Aku sedang tidak ingin membahas lelaki itu. Kau sendiri bagaimana? Apa kau benar akan menikah dengan laki-laki pujaanmu itu?
Maea : tentu dayu. Tidak pernah hatiku bergetar rasanya ketika dekat dengan laki-laki selain dia. Tidak ada aroma tubuh yang paling wangi selain aroma tubuhnya. Mmmm. Suatu ketika aku akan mencuri barang sebutir atau dua butir keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Lalu akan ku simpan didalam pori-pori kulitku, akan kusuruh kringat itu mengalir bersama darah ditubuhku.
Dayu : ya maea ya. Kau sangat beruntung. Lalu untuk apalagi menunggu lama?
Maea : kau tahukan dayu, dia seorang pengembara. Aku harus berpikir lebih panjang lagi. Dia juga belum mengatakan apa-apa padaku.
Dayu   : ahhh! Kau terlalu polos Lasmi.
Maea   : Maksudmu apa dayu?
Dayu   : Jaman sekarang, tidak ada lagi yang namanya seorang perempuan menunggu kata-kata cinta terlalu lama dari seorang laki-laki.
Maea   : Maksudmu? Aku harus memulai lebih dulu? Tapi Dayu.....
Dayu   : Tapi apa maea? Tapi karena kau perempuan? Karena perempuan tidak boleh mengatakan cinta lebih dulu?  Halah, Itu nasehat kuno! Lawas! Jika perempuan tidak berhak mengatakan isi perasaannya lebih dulu, lalu apa artinya emansipasi perempuan? Ayolah maea, jika kau ingin bahagia, maka kau harus memperjuangkannya.
Maea   : Tapi dayu...
Dayu : halah, kau terlalu lama, menikahlah saja. Jika tidak diijinkan maka kau kabur dengannya. Tinggalkan kemewahan menjadi seorang penari. Hidup bahagia dan beranak  pinak dengannya.
Maea   : Tapi dayu, tidak semudah itu....
Dayu   : Ahh, apa lagi yang kau takutkan maea?
BLACK OUT


ADEGAN 3
MAEA DAN WIRA SEDANG BERMESRAAN DISEBUAH BANGKU TAMAN DIDALAM PEDESAAN.
Wira    : Wah, sungguh cantik sekali rembulan dilangit itu. ah, tapi tidak secantik perempuanku. Ya, tentu saja. Saya sedang menunggu seorang perempuan. Malam ini saya mau berkencan. Berdua-duaan dibawah sinar rembulan. Lalu sesekali saya akan belai-belai pipi merona milik kekasih saya. Pasti dia suka! Oh iya, bagaimana? Apa saya sudah ganteng malam ini? ya, pasti ganteng. Kalian saja sampai memperhatikan saya terus. Kurang ganteng apalagi saya ini? Maka, tidak diragukan lagi! Bahwa tidak mengejutkan jika ada penari tercantik didesa ini yang jatuh hati pada saya. Hahaha.
Maea   : Wira?
Wira    : Eh, siapa itu? Eh maea! Kau sudah datang sayang!
Maea   : Iya wira, maaf membuatmu menunggu.
Wira    : Tidak apa-apa maea. Demi melihat kecantikanmu malam ini, aku rela menunggumu berabad-abad.
Maea   : Ah, kau ini. Selalu berkata gombal.
Wira    : hehehe, kemarilah maea. Duduklah bersamaku.
Maea   : wira?
Wira    : Iya maea?
Maea   : Menyuruhku datang kesini malam-malam, apakah kau ingin mengatakan sesuatu?
Wira    : Oh, tentu. Tentu maea. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang sejak dulu ingin kukatakan padamu.
Maea   : kau mau mengatakan apa wira?
Wira    : begini maea.....eee
Maea   : Iya wira. Aku akan mendengarkannya. Aku akan pasang telingaku untuk mendengar perkataanmu.
Wira    : Tapi aku malu sayang.....
Maea   : Kenapa wira? Apa yang membuatmu malu? Tidak apa-apa, katakan saja. Aku akan menerimanya. Aku akan sungguh-sungguh menerima dan menjalaninya bersamamu wira. Ayo katakan.
Wira    : iya maea. Jadi begini..... aku....
Maea   : aku apa wira?
Wira    : aku......
Maea   : iya?
Wira    : aku....aku....aku sangat ingin memelihara kucing.
Maea   : iya! Aku menerimanya wira!
Wira    : apa? Jadi kau membeloehkanku memelihara kucing?
Maea   : apa? Kucing?
Wira    : Iya, aku berniat membeli jalu, kucing milik lasmi. Aku akan memeliharanya nanti. Jika kau mau, kau juga boleh memeliharanya bersamaku.
Maea   : Jadi, kau hanya ingin mengatakan ini?
Wira    : Iya maea.
Maea   : Ku kira. Baiklah. Terserah kau saja wira.
Wira    : eeee, maea?
Maea   : apa?
Wira    : kau tahu maea? Apa yang paling menyenangkan hidup dibumi ini?
Maea : apa ?
Wira : coba pikirkanlah maea.
Maea : menari?
Wira : bukan, cari lagi.
Maea : makan soto diwarung mbok londo yang enak itu? Tapi geratis.
Wira : bukan maea.
Maea : lalu apa?
Wira : kau menyerah?
Maea : ya.
Wira : hal yang paling menyenangkan hidup dibumi ini adalah.....siap ya.....adalah.....menciummu. (wira mencium pipi maea dan berlari kecil menjauhi maea sambil terkekeh sendiri)
Maea : wira! Kau jahat! (malu menutup muka)
Wira : (mendekati maea) kenapa maea? Kau tidak suka?
Maea : tidak. Kau jahat wira. Kau mencuri cium padaku.
Wira : lalu kenapa?
Maea : kau harus tanggung jawab!
Wira : tanggung jawab apa? Aku tidak menghamilimu.
Maea : segera nikahi aku wira, atau aku akan meninggalkanmu. (berdiri dari tempat duduknya) kau tahukan wira, aku adalah seorang penari. Penari yang terkenal didesa ini. semua laki-laki akan memperebutkanku. Apa kau tak mau menjadi orang yang memiliku sseutuhnya?
Wira : tentu aku mau maea.
Maea : jadi nikahi aku sekarang juga wira. (sambil senyum malu, maea meninggalkan wira sambil berlari kecil)
Wira : tunggu maea! Baiklah! Akan kunikahi dirimu! (berlari menyusul maea)
BLACK OUT


ADEGAN 4
IBU TERLIHAT MENUNGGU MAEA DENGAN PENUH CEMAS BERCAMPUR MARAH. TIDAK LAMA KEMUDIAN MAEA PUN DATANG
Ibu       : dari mana saja kau?
Maea   : perlu ibu menanyakan itu seperti seorang polisi?
Ibu       : maea? .....
Maea   : untuk apa lagi ibu memanggilku jika ingin mengumpatku dan menghentikanku....sekalipun ibu melakukannya aku tak akan pernah berhenti...(maea pun masuk kedalam meninggalkan ibu, sesaat kemudian maea keluar membawa barang-barangnya)
Ibu       : apa yang mau kau lakukan?
Maea   : aku akan pergi dengan kereta penghabisan.
Ibu       :  jika kau tetap ingin pergi aku akan....
Maea   : akan mengapa ibu? Akan mengapa? Memukulku?, menendangku dan menghentikanku untuk tak menikah dengan wira?, itu yang mau ibu lakukan? Iya bu? tidakkah ibu sadar kejadian 5tahun yang lalu? hanya karna kau menahan seseorang untuk tak pergi dari hidupmu dia malah pergi meninggalkan ibu selamanya...tidakkah ibu ingat itu???
Ibu       : ibu tak pernah menahannya , dia pergi karna kesalahannya sendiri.
Maea   : kesalahan yang sperti apa bu? Kesalahan dan kenyataan karna ibu merebut suami orang lain?
Ibu       ;  tutup mulut mu itu maea? (menampar maea)
Maea   : (memeganggi pipinya) hanya ini yang ingin kau lakukan padaku?, sudah lebih dari cukup kau menghentikanku bu, dan sampai kapanpun aku akan tetap menikah dengannya. Maka jangan pernah kau ikut campur urusan percintaanku ibu!
Ibu       : Maea! Tidak bisakah kita hidup saling mengasihi satu sama lain? Ibu hanya takut kau meninggalkan ibu sendirian nak. Kemarilah nak..... dan bicarakan ini baik-baik. Baiklah, jika menikah dengan wira adalah jalanmu untuk bahagia, maka menikahlah. Kejar kebahagianmu.
Maea   : maksud ibu, ibu merestuiku?
Ibu       : Iya nak, kebahagianmu adalah kebahagian ibu juga.
Maea   : Benar ibu? Terimakasih bu. Terimakasih untuk semuanya. Aku berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkan ibu.
Ibu       : Baiklah maea, pergilah. Jemput kebahagianmu. (mulai tenang dan mendekati maea) anakku maea, kemarilah. Sekarang ibu akan merestui hubunganmu. Kau boleh menikah dengan wira, kau tidak perlu pergi. Menikahlah dan jemput kebahagiaanmu nak
Maea   : iya ibu (pergi meninggalkan ibu)
Ibu : ( merintih menangis pilu) duh jagad..... apa dosaku hingga kau memberiku cobaan seperti ini? anak semata wayangku, yang ku besarkan dengan segenap jiwa dan ragaku yang masih tersisa ini. Mengapa ia begitu keras kepala jagad? Duh jagad tempat segala wujud kau besarkan. Aku rela kebahagianku kau renggut, asalkan putri tercintaku yang bergelimang kebahagiaan.. Bagaimanapun juga, seorang ibu tak bisa memaksakan kehendak putrinya. Kita memang sama-sama perempuan, tapi ibu tahu kita hidup diera yang berbeda. Ibu yakin kau akan lebih bahagia.
BLACK OUT
ADEGAN 5
SILUET MAEA DENGAN WIRA DALAM PERNIKAHANNYA.
ADEGAN 6
DAYU MENANGIS TERSEDU-SEDU.
Dayu   : (bersimpuh dan menangis) omong kosong apa ini! Kenapa kau sungguh tega! Kenapa kau lakukan ini padaku! Tak cukupkah kesetiaanku bertahan sekeras ini? Apa yang kau perbuat! Sungguh keras rasanya menahan segala gelisah rindu yang ku simpan untukmu. Setiap hari, setiap napasku mulai berhembus, setiap itulah ku rapal mantra-mantra doa keslamatan untukmu. Sambil mengkhayalkan kau kembali. Merengkuhku lagi dengan senyum dan kehangatanmu. (berdiri) kau tahu? Setiap kuterima sentuhan dan senyummu waktu itu? rasanya....aku bagaikan bayi yang terlahir kembali. Bayi yang kulitnya masih ringkih dan hanya butuh belaian hangat seorang ibu. Sekarang.....sekarang kau binal! Bagai kuda yang terlepas dari kandangnya. Lalu mengamuk! Menubruk yang ada didepanmu!
Dengar! Sampai kapanpun kau tak akan menerima kebahagian! Kau akan selalu merasa bersedih dan duka atas apa yang kau lakukan padaku! Aku tidak akan melepaskanmu! Tidak akan pernah! Saksikan! Saksikan wahai rembulan yang sudah tertutup awan dilangit sana! Aku akan datang! Mencabik-cabik kebahagian orang-orang yang telah membuang hatiku! Akan ku tegakan dimana keadilan perasaan seorang perempuan harus ditegakan!
BLACK OUT

ADEGAN 7
MATINYA MAEA DITANGAN DAYU, DAN SOSOK LASMI DATANG MELIHAT SOSOK MAEA MATI DAN LASMI DIRASUKI MAEA

ADEGAN 9
LASMI MENARI DENGAN GENIT SAMBIL MENGGODA WIRA. GENDING GENDING TARI YANG MENGIRINGI LASMI MENARI MENGALUN SEMAKIN SESAK, LASMI MENODONGKAN TUSUK KONDENYA YANG TAJAM KELEHER WIRA. DAYU DATANG DENGAN KEPANIKANNYA DAN MENCOBA MENCEGAH PERBUATAN LASMI.
Dayu   : lasmi......apa yang kau lakukan?
Lasmi  : dayu.....
Dayu   : ma....maea......,,,kau tidak mungkin kau...kau sudah mati tidak mungkin kau...
Lasmi  : aku memang sudah mati dayu tapi jiwaku tak akan pernah mati sebelum aku meghabisi kalian berdua...
Dayu   : tidak...!
Lasmi  : kenapa? Apa kau kaget?
Wira    : maea? Kaukah itu? maea? Maafkan aku maea.
Lasmi  : diam kau bangsat! Sudah kuserahkan segalanya kepadamu. Namun kau hidup dengan membohongiku! Kau pantasnya mati malam ini!
Wira    : tidak! Tidak maea, aku benar-benar mencintaimu. Aku rela meninggalkan dayu demi cintaku kepadamu. Ampuni aku maea. Atau bunuhlah saja diriku agar kita bisa sama-sama lagi dialam sana. Bunuh saja aku maea.
Dayu   : hentikan maea, maafkan aku. Maafkan aku karna telah membunuhmu. Aku begitu gelap mata hingga tega membunuhmu dan calon bayimu. Maafkan aku, maafkan aku maea....
Lasmi  : diam kau wanita jalang! kau telah membunuhku, kau membunuhku demi ambisimu ,,,kau membunuhku karna dendammu padaku, kau membunuhku karna kecemburuanmu...kau membunuhku karna kau tak ingin ada seorang penari yang jauh lebih hebat daripada ku. Bukan???..dan sekarang giliranku untuk membunuhmu,, dan juga kau (menunjuk wira, ) karena kau telah berbohong kepadaku.....kau bukanlah seorang pengembara...kau suami dayu wira seno aji.......sekarang habislah kalian berdua bangsatt......
Ibu       : hentikan semua ini maea....(berteriak sambil menangis), sudah cukup kau hancurkan hidupmu dengan kemarahanmu maea....,
Lasmi :  ibu...., (menangis ketika melihat ibu)
Ibu       : jangan kau lakukan itu nak....dendammu itu hanya akan menambah kejatuhan dosamu....lepaskan mereka maea.....pergilah dengan tenang....
Lasmi  : ibu....maafkan aku yang tak pernah mendengarkan nasehatmu....kau wanita yang berhati mulia ibu ....tak seharusnya aku melawan segala ucapanmu...kini aku telah mati bersama dengan penyesalan dan kerapuhanku....
Ibu       : aku tlah memafkanmu nak...aku memaafkanmu sebelum kau meminta maaf padaku....sebelum itu aku sadar aku akan kehilanganmu, tapi kita tidak benar-benar kehilangan ,antara kita masih ada saling mengerti dan saling mencinta.....
lasmi    : maafkan aku yang selalu melukai hatimu bu......
ibu : iya maea, ibu sudah memaafkanmu. Sekarang, kau maafkanlah mereka juga. Maafkan wira dan dayu. Mereka hanyalah manusia-manusia yang pernah gelap mata sepertimu maea. Ikhlaskanlah semuanya, biarkan dunia yang masih nyata ini yang mengadili perbuatan mereka.
Dayu : iya maea, maafkan aku. Maafkan aku maea ( menangis). Aku sungguh bersalah kepadamu. Aku masih sangat mencintai wira. Dan ketika aku tahu kau menikah dengan wira, aku tak mampu menahan amarahku. Maafkanlah aku maea.
Lasmi : diamlah dayu! Aku sudah putuskan untuk menyerahkan dirimu pada bumi. Dengarkan kalian semua! Aku adalah jiwa yang pernah tumbuh dekat dengan kalian. Jiwa yang kalian renggut kehidupannya. Dan jiwa ini, jiwa ini akan terus berdampingan pada semesta dimana kalian berada. Karma terus berjalan, janji jagad tak mungkin diingkari. Dan sekarang, ketika ragaku telah muksa. Jagad adalah senjata mematikan bagi mereka yang membohongi kodrat dosanya. Jagad! Dengarkan tangisan dua nyawa yang diambil secara paksa! (suara tangisan bayi dan musik yang menggelegar) kuserahkan mereka yang ingkar kepadamu! Keserahkan mereka yang berdosa kepada tanganmu! Kuserahkan padamu wahai kau jagad!
BLACK OUT

Minggu, 19 Juni 2016

"Semoga Berjodoh"

Yap, saya merasa hidup saya benar-benar berputar-putar. Dan semoga kali ini berjodoh dengan Salihara. Setidaknya saya bekerja bukan untuk kepentingan seorang bos, tapi untuk Seni.
 
Copyright 2012 witchtopia. Powered by Blogger
Blogger by Blogger Templates and Images by Wpthemescreator
Personal Blogger Templates