Terlukis Kepala
Jadilah
lukisan yang tak akan pernah pudar.
Walau beku mulai menyerang.
Sebilah kuas akan menyangga goresan
titik dikanvasnya.
Mengikat garis-garis menjadi satu
kepala.
Kepala yang tengah terbungkus tembikar
liat.
Dan kau tak kan pernah yakin pada apa
yang terlukis dikepalanya.
Cicak di Punggung
Cicak
tak pernah meminta ekornya kembali.
Ketika
kau memaksa memotong dadu epigon ditubuhnya.
Cicak
tak pernah menjerit sakit pada ekornya.
Ketika
kau mengunyah renyah sisa pori-pori tudung kulitnya.
Cicak
tak pernah pergi dan lenyap untuk tersesat mengejar ekornya.
Ketika
kau duduk berdiam membelakangi dinding kamar.
Cicak
tetap merayap pada tempatnya.
Memandangmu
dari bidang miring disudut memar.
Hati Kita Hati
Hati
kita tak pernah benar-benar saling berbicara.
Hati
kita bekerja untuk menduga.
Sampaikanlah,
Aku
punya hati untuk kau singgahi.
Seruang
kosong yang bisa kau beri aroma dupa.
Supetak
luas yang bisa kau taburi bunga kamboja.
Hati
kita tak pernah benar-benar saling berbicara.
Hati
kita bertugas untuk menyimpan.
Sampaikanlah.
Aku
punya duri untuk kau cabuti.
Sebatang
kaktus yang bisa kau bawa berlari.
Ku
tempatkan kau pada udara yang tak tergayuh sepi.

0 komentar:
Posting Komentar