Ia terlihat melangkahkan kaki memasuki
sebuah gedung teater yang cukup besar. Sore itu, dengan angin yang cukup
berdesir dingin menyentuh pori-pori kulit. Retno Maruti yang masih terlihat
sangat segar dengan usia yang menginjak enam decade lebih, menyalami
satu-persatu orang-orang didalam gedung. Senyumnya nampak ramah, tenang dan
melukiskan kecantikan sejati seorang wanita Indonesia. Suaranya yang lembut
lekas menyapa orang-orang disekitarnya. Tak disangka, penari Kijang Kencana
pada Ramayana Prambanan tahun 1960-an dan mendapat sanjungan dari Soekarno kini
menjadi sosok wanita yang memikat dunia lewat tarian.
Retno
Maruti tengah berproses di Kota Solo selama tiga hari mulai 18 Oktober 2014,
mengusung kembali karyanya Roro Mendut yang pernah tampil di Negara Jerman.
Roro Mendut kali ini akan ditampilkan di Teater Taman Ismail Marzuki pada akhir
Oktober 2014 nanti. Disela-sela istirahat latihan, Retno Maruti dengan ramah
membagikan kisah-kisahnya tentang pengalaman ketika menari Kijang di Ramayana
Prambanan. Raut wajahnya begitu sumringah ketika ditanyai tentang masa-masa
remajanya itu. Mendengarkan Retno Maruti bercerita seperti membaca dongeng
petualangan yang sangat menyita perhatian.
“Dulu
penari tidak boleh terlihat bagian ketiaknya ketika menari. Orang Jawa bilang ra ilok, jadi kalau sekarang kostum
Kijang itu hanya memakai mekak dulu saya memakai baju. Tetapi yang terpenting
dalam sebuah tari bukanlah tentang fisiknya, namun tentang rasa, bagaimana cara
kita menghidupkan karakter agar memikat para penonton, lewat hati.” Begitulah
Retno Maruti menjelaskan.
Tarian
Kijang Kencana pada salah satu adegan Ramayana yang ditarikan oleh Retno Maruti
sering disebut Tari Pikatan. Tari Pikatan disini adalah tarian yang bertujuan
untuk memikat hati, hati yang terpikat adalah milik Sinta agar ia tergerak
untuk memiliki Kijang yang lincah dan cantik itu. Retno Maruti juga bercerita
betapa pengalaman menari di Parmbanan pada era 60-an adalah pengalaman menari
yang benar-benar menguras kreatifitas tinggi. Pada jaman 60-an area Prambanan
yang digunakan untuk menari lebih luas dua kali lipat katimbang yang sekarang.
Dengan luas panggung yang lebar membuat Bu Retno yang masih berumur 16 tahun
mengerahkan segala tenaga kelincahannya untuk menari. Tidak hanya lebar, ia
harus menari sebagai Kijang sendirian, hanya sendiri.
“Coba
bayangkan mbak, dengan panggung yang sangat luas itu saya lari kesana, lari
kesini, melompat dan menari dengan lincah. Ketika gending Kemanak itu muncul,
saya merasa bahwa panggung itu untuk saya, music itu untuk saya, saya merasa
bebas dan sangat bahagia. Pada umur saya yang masih sangat muda itu saya hanya
berpikir untuk tidak takut salah, tidak takut mencoba.” Wajahnya yang masih
selalu ayu itu memancarkan binaran sepasang mata yang indah.
Retno
Maruti bercerita bagaimana prosesnya ketika menari Kijang hingga mampu sehidup
itu. Beliau mengaku bahwa untuk menari dengan baik ia harus mengerti lebih
dahulu tentang gendingnya. Menghafal ketukan-ketukan didalamnya, ia harus
mengingat betul pada bagian mana ia harus melompat, berdiri, srisig dan
melakukan gerak-gerak tari yang lain. Dengan keahliannya yang mampu
menghidupkan karakter Kijang yang lincah dan lucu, maka tidak heran jika Kijang
milik Bu Retno Maruti menjadi contoh munculnya Kijang-kijang Kencana yang lain.
Kemenarikan
Bu Retno Maruti tidak hanya terletak pada masa remajanya di tarian Kijang.
Karya-karyanya yang tertuang dalam komposisi-komposisi tari tradisi yang lebih
mengarah pada tema-tema perempuan adalah kecantikan sejati yang ia miliki.
Beberapa karyanya seperti Roro Mendut, Sawitri, Sekar Pembayun dan Keong Emas
adalah karya-karya yang menunjukan identitasnya sebagai seorang perempuan.
Beliau mampu mengusung perjuangan-perjuangan perempuan pada karya-karyanya,
emansipasi wanita sangat erat kaitannya dengan ekspresi pengalaman jiwa yang
kemudian ia tuangkan lewat tarian. Sungguh, kecantikan yang nyata tertuang
dalam diri Retno Maruti, ia mampu mewakili kekuatan dan kecerdasan perempuan
lewat tari. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya selalu ditemui di Negara
kita, Indonesia. Perempuan-perempuan yang tidak hanya mengedepankan kecantikan
fisik pada dunia, namun juga menunjukan kekuatan mereka lewat kemampuannya
untuk berkarya.


0 komentar:
Posting Komentar